Rabu, 25 November 2009

Meneropong Bandung 90 Tahun yang Lalu

Kamis, 23/04/2009 08:19 WIB
Meneropong Bandung 90 Tahun yang Lalu
Ema Nur Arifah - detikBandung




Bandung
- Memasuki hari ke-5 peringatan Konferensi Asia Afrika, beberapa anak berseragam putih biru tampak antusias duduk di atas karpet merah yang digelar di ruang Museum KAA. Mereka tidak duduk di kursi yang sebelumnya sudah penuh oleh pengunjung.

Ghifari (11) misalnya, siswa SMP 13 ini bahkan baru datang ke museum KAA. Kedatangan Ghifari kali bersama kawan-kawannya untuk melihat pemutaran film dokumenter Bandung Tempo Doeloe.

"Saya senang bisa datang dan tahu tentang sejarah Bandung," ujar Ghifari bersemangat.

Memang tak hanya Ghifari, sekitar ratusan orang lainnya sengaja datang untuk melihat bagaimana kondisi Bandung di masa lalu. Dipandu pramuwisata senior sekaligus pemerhati budaya dan sejarah, Felix Feistma, acara yang berdurasi dua jam tersebut menyisakan berbagai pertanyaan bagi peserta diskusi.

"Tak akan habis waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka," ujar Felix.

Felix mengajak peserta untuk melihat bagaimana Bandung 90 tahun yang lalu. Menembus waktu, meneropong setiap ruang di Kota Bandung saat itu. Dalam gambar hitam putih tersebut diperlihatkan jalan-jalan, bangunan-bangunan kehidupan sosial, juga kondisi perpolitikan yang ada di Kota Bandung termasuk peristiwa Bandung Lautan Api.

"Bandung pernah memiliki golden era pada masa Hindia Belanda," tutur Felix membuka diskusi.

Bangunan-bangunannya yang indah dengan arsitektur menawan, kondisi jalan yang masih rimbun dan teduh, serta serpihan-serpihan gaya hidup orang Belanda di masa itu.

"Bandung adalah kota yang cantik," ujar Felix. Hal itulah yang mungkin menjadi alasan dipilihnya Bandung di tahun 1955 sebagai kota penyelenggara Konperensi Asia Afrika. Padahal ucap Felix, saat itu situasi keamanan di Bandung pun sedang tidak dalam keadaan kondusif. Tapi dengan sukses KAA bisa dilaksanakan.

"Saat itulah tepatnya Bandung menjadi ibukota dua benua Asia dan Afrika," jelas Felix.

Diungkapkan Felix, mungkin saja apa yang ada dalam golden era tersebut satu waktu sudah tidak ada lagi. Sebagai dampak dari adanya pembangunan-pembangunan sekarang yang menurut Felix tidak lagi menghargai sebuah sejarah.

"Bukan saya membela pemerintah Hindia Belanda. Tapi kita harus melihat di balik pembuatan bangunan-bangunan tersebut ada tangan-tangan orang pribumi yang bekerja. Bayangkan orang-orang kita sudah bisa membangun seindah itu," ujarnya.

Felix berharap dengan acara ini generasi muda menjadi lebih tahu tentang kondisi Bandung jaman duku sehingga mereka tidak kehilangan cerita.

Namun di mata Felix, meski golden era sudah terlewati tapi Bandung tetap memiliki daya tarik. "Bandung memiliki aura," ucapnya.
(ema/ern)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar