Sabtu, 21 Mei 2011

Masjid Al Iman Loano Miliki Garis Spiritual dengan Masjid Demak

23 Agustus 2010 | 20:25 wib
Masjid Al Iman Loano

Miliki Garis Spiritual dengan Masjid Demak

image

MASJID Al Iman atau yang lebih tersohor dengan sebutan Masjid Loano merupakan satu dari sekian banyak bangunan peninggalan peradaban klasik yang sudah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya (BCB) oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3)
Provinsi Jawa Tengah.

Tempat peribadatan umat muslim ini memang tergolong memiliki nilai sejarah yang istimewa. Bukan lantaran kemegahan bangunannya, tapi dikarenakan usia bangunan yang sangat tua tapi konstruksi bangunan masih bisa dipertahankan sesuai aslinya.

Memang tidak ada data sejarah pasti yang bisa menjelaskan kepastian kapan pertama kali masjid itu dibangun. Namun dari bentuk dan gaya arsitektur bangunan, diperkirakan Masjid Al Iman dibangun pada abad XV masehi. Antara lain terlihat dari konstruksi usuk yang bukan sekedar dipaku menempel, tapi ditanam masuk ke konstruksi pengeret.

Masjid tersebut memiliki 16 tiang yang semuanya merupakan kayu jati utuh berusia ratusan tahun. Dari 16 tiang tersebut, empat di antaranya merupakan saka guru yang berfungsi sebagai penyangga hingga bagian rangka atap.

Kasie Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Drs Eko Riyanto menjelaskan, masjid tersebut memang pernah diubah bentuk rangka atapnya oleh penduduk sekitar. Tapi sejak Maret lalu konstruksinya dikembalikan seperti semua oleh Balai Pelestarian Peninggalan Pubakala (BP3) Jawa Tengah.

"Masjid itu usianya sudah ratusan tahun dan dibangun pada masa peradaban Islam Purworejo. Otomatis, masjid itu menjadi informasi penting sekaligus etalase untuk mempelajari peradaban Islam di Kabupaten Purworejo. Masjid itu menjadi semacam prasasti sejarah Islam," paparnya.

Lebih Tua dari Masjid Demak

Masjid Loano ini memang telah menjadi salah satu saksi sejarah syiar Islam di Kabupaten Purworejo. Dari beberapa referensi yang berhasil ditelusuri Suara Merdeka CyberNews serta informasi dari penduduk sekitar, masjid Loano dari sisi umurnya sebenarnya jauh lebih tua dibandingkan dengan salah satu masjid tua di pulau Jawa yang menjadi pusat pemerintahan kerajaan Islam Demak. Yakni Masjid Demak yang didirikan Sunan Kalijaga sekitar abad XV atau sekitar 1477 M.

Dalam beberapa hikayat penduduk sekitar dikisahkan, masjid Loano ini didirikan sebelum masjid Demak. Ulama yang dipercaya masyarakat sebagai pendiri masjid ini adalah Sunan Geseng, yang tidak lain adalah murid Sunan Kalijaga. Dengan demikian,
kedua masjid tersebut telah memiliki garis hubung spiritual sejak awal.

Diceritakan pula, dulunya Loano merupakan sebuah kerajaan besar tersendiri sejak zaman kerajaan Pajajaran hingga kerajaan Mataram. Besar kemungkinan masjid Loano ini dibangun pada masa kejayaan kerajaan tersebut dan memiliki fungsi sebagai masjid agung.

Salah satu keistimewaan masjid yang dibangun dalam Benteng Kadipaten ini adalah puncak masjid yang disebut Mustaka. Dalam Mustaka ini terdapat kayu penunjuk yang dapat berubah-ubah arahnya. Masyarakat sekitar memercayai, konon perubahan arah itu menunjukkan tempat adanya musibah di Indonesia.

Di bagian kayu atas masjid juga terdapat khat atau tulisan berbahasa Arab yang memuat tentang beberapa doa dalam salat. Sedangkan kubahnya terbuat dari tanah liat berkualitas tinggi dan biasanya digunakan untuk pembuatan kramik. Juga mimbar masjid yang terbuat dari kayu jati dengan bentuk khas zaman klasik.

( Nur Kholiq / CN16 )

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/ramadan/ramadan_detail/54249/Miliki-Garis-Spiritual-dengan-Masjid-Demak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar