Sabtu, 27 Februari 2010

Trashion, Limbah Plastik Bernilai Ekonomi Tinggi

Yanti, pengrajin daur ulang dari sampah plastik dengan produk Trashion. Trashion memiliki kualitas eskpor hasil pembinaan dari Yayasan Unilever Indonesia.
Kamis, 25/2/2010 | 12:09 WIB

KOMPAS.com - Sampah plastik rumah tangga jika dikumpulkan dalam sebulan bisa mencapai puluhan, bahkan ratusan kilo. Padahal plastik butuh ribuan tahun untuk terurai jika sudah sampai di TPA. Bayangkan pengaruhnya bagi lingkungan. Tidak heran jika kampanye mengurangi plastik semakin gencar belakangan ini. Pilihan lain jika ingin menyelamatkan bumi adalah dengan mendaur ulang.

Cara pandang kreatif terhadap sampah sudah dimiliki ibu tiga anak, Heryanti Simarmata (40), sejak 2007. Ibu rumah tangga yang akrab disapa Yanti ini mengaku bakat alami dan kegemarannya dengan seni keterampilan membuatnya terpancing berkarya.

Karya sederhana dari sampah plastik rumah tangga membuka peluang besar bagi dirinya dan lingkungan. Yanti semakin dikenal banyak komunitas, perusahaan, lokal maupun internasional, sejak memunculkan ide mengubah sampah menjadi benda layak guna dengan label Trashion.

"Awalnya produk daur ulang sampah plastik ini menjadi juara I lomba pengolahan limbah kering program Jakarta Green & Clean tahun 2008. Sejak itu orang banyak kenal dan pesanan mulai berdatangan," papar Yanti kepada Kompas Female.

Yanti melibatkan ibu rumah tangga di kawasan tempat tinggalnya untuk mengolah limbah plastik ini. Misi awalnya adalah berpartisipasi dalam kegiatan pelestarian lingkungan. Kolaborasi kreativitas dan kemandirian usaha membesarkan ide Yanti menjadi tak sekadar aktivitas lingkungan.

Dengan tetap melibatkan komunitas yang kebanyakan kaum ibu, Yanti mengembangkan keterampilan daur ulang plastik hingga menjadi industri rumahan sekaligus membuka lapangan kerja. Bantuan modal dari Yayasan Unilever Indonesia berupa sebuah mesin jahit membantu usaha Yanti. Kini, Yanti punya lima mesin jahit di workshop-nya, 10 karyawan, dan jaringan komunitas penggiat daur ulang bermerek Trashion di sejumlah titik di Jakarta.

Plastik sejumlah 5 kilogram menjadi titik awalnya. Saat itu, Yanti harus mengumpulkan plastik dari limbah rumah tangga. Plastik tersebut disortir lebih dulu. Hanya yang masih layak dipakai yang diolahnya. Namun sekarang Trashion sudah mulai terbantu seiring meningkatnya kesadaran masyarakat mengumpulkan limbah plastik.

"Ibu rumah tangga mulai terbangun kesadarannya untuk mengumpulkan limbah plastik, mencuci, dan menjualnya sebagai bahan baku produksi," kata Yanti, yang menghargai bahan baku limbah plastik senilai Rp 3.500 - Rp 5.000 per kilogram.

Tak hanya ibu rumah tangga, pemulung yang semula tak peduli dengan limbah plastik, akhirnya mendapat peluang rejeki baru.

"Plastik dihargai Rp 300 per kilogram di lapak. Membayar limbah plastik dengan harga tinggi membuat pemulung lebih termotivasi mengumpulkan plastik," katanya.

Produksi Trashion terus meningkat setiap tahunnya. Setiap bulan permintaan barang mencapai lebih dari 500 item. Bahkan sejak awal 2010 ini, Hypermart memesan 3.000 produk sebagai tahap pertama kerjasamanya dengan Trashion. Saat ditemui Kompas Female, Yanti juga turun tangan menyiapkan pesanan sejumlah 400 buah untuk dikirim ke Bali dalam acara seminar.

Untuk memenuhi permintaan yang semakin menggunung, Yanti konsisten pada konsep awal, memberdayakan komunitas ibu rumah tangga dan pemulung terkait bahan baku plastik. Untuk proses produksi massal, selain merekrut kaum ibu, Yanti membagi porsi tugas setiap karyawannya. Mulai dari tahap pencucian dengan desinfektan, pengeringan dengan menjemur di bawah sinar matahari, pemotongan (mengambil gambar), menjahit potongan gambar (panel), membuat pola, dan finishing.

Hasil akhir dari produksi ini adalah ragam produk layak guna bernilai estetika dan ramah lingkungan. Bentuknya berupa tas laptop, tas pinggang, tas belanja, tas make-up, tas lunch-box, backpack, sandal, dompet, casing ponsel, dompet koin, travel bag, payung, dan lainnya. Yanti juga menerima pesanan untuk wadah penyimpanan atau produk lain seperti karpet misalnya.

Soal harga sangat bervariasi, dari Rp 15.000 untuk dompet koin, hingga Rp 400.000 untuk travel bag. Harga sangat bergantung ukuran dan tingkat kesulitan desain dan modelnya.

Trashion mampu menarik pasar dan berkontribusi hingga Rp 10 juta per bulan bagi dapur produksi Yanti. Hasil ini tak hanya dinikmati Yanti, namun juga para ibu yang turut dilibatkan dalam pengembangan produk Trashion.

Produsen consumer goods yang memiliki kepedulian lingkungan, Unilever (Yayasan Unilever Indonesia), pernah memberikan kesempatan kepada Yanti untuk mengikuti pelatihan terkait quality control. Misinya, agar produk Trashion punya daya saing tinggi, gaya, dan berkarakter. Benar saja, karena Trashion mendapati pengakuan internasional sebagai bagian keberhasilan program Unilever. Sejak itu pula, Trashion mendapati pesanan dari beberapa negara seperti Singapura, India, dan Inggris.

Informasi produk:
Workshop: Jl Masjid Al-Falah RT 006 RW 02 No 9, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Telp: 021-781 2315 /021 918 52448
Email: yanti.ardes@gmail.com
Website: www.ardescolection.com


C1-10

Editor: din

http://female.kompas.com/read/xml/2010/02/25/12091349/trashion.limbah.plastik.bernilai.ekonomi.tinggi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar