Rabu, 25 November 2009

Lautze 2 'Mengusung' Warna Merah

Minggu, 24/02/2008 10:50 WIB
Lautze 2 'Mengusung' Warna Merah
Ema Nur Arifah - detikBandung




Bandung
- Melihat dari arsitektur luarnya, bangunan dengan dominasi warna merah ini tak terlihat seperti masjid. Nuansa etnis negeri bambunya lebih terasa ketika tahu mesjid ini bernama Masjid Lautze 2.

Masjid Lautze 2 yang terletak di Jl. Tamblong No. 27 Bandung ini, merupakan cabang kedua masjid Lautze di Jl. Lautze, Pecinan Jakarta yang didirikan 9 April 1991. Mulai dirintis pada pertengahan Ramadhan di Desember tahun 1996. Sedangkan untuk aktivitasnya dimulai sejak tahun 1997. Namun sampai sekarang status kepemilikan mesjid Lautze 2 masih mengontrak pada pemerintah kota.

Masjid Lautze 2 yang dibangun diatas tanah seluas 56 meter persegi ini berada di bawah Yayasan Haji Karim Oei. Nama Karim Oei diambil dari nama seorang tokoh Islam keturunan Tionghoa yang akrab dengan Bung Karno, Bung Hatta dan tokoh-tokoh nasional lain saat itu.

Hal itu bisa dibuktikan dengan terpampangnya sebuah potret Karim Oei yang berdampingan dengan Bung Karno dan Bung Hatta di dinding masjid.

Masjid Lautze memiliki misi untuk menjadi pusat aktivitas muslim khususnya muslim tionghoa, menjadi pusat literatur Cina, khususnya yang berkaitan dengan Islam dan Muslim Tionghoa, menjadi pusat kebudayaan Tionghoa Muslim, menjadi sarana pembauran antara etnis Tionghoa dengan etnis pribumi dan menjadi pusat aktivitas pembinaan muallaf.

Menurut salah seorang pengurus masjid, Muhammad Sulthonuddin yang biasa disapa Aang atau Toni ini, mayoritas para jemaah Mesjid Lautze 2 mengakui bahwa aspirasi mereka sebagai seorang muslim kurang terwadahi oleh masjid-masjid sekitar tempat tinggal mereka. Perlakuan dan pandangan masyarakat terhadap keberadaan muslim Tionghoa belum sepenuhnya bisa diterima.

Kegiatan-kegiatan yang sering dilakukan masjid Lautze tak berbeda dengan kegiatan masjid-masjid pada umumnya. Hanya ada spesifikasi khusus konsultasi dan informasi Islam untuk warga Tionghoa.

Walaupun dalam kenyataannya, masyarakat pribumi pun banyak yang beribadah di masjid ini. Terlebih ketika shalat Jumat, jemaah bisa pebuh hingga ke trotoar.

Jika masyarakat Tionghoa agak enggan untuk berkonsultasi dengan mubaligh pribumi. Setiap hari Minggu masjid Lautze menghadirkan mubaligh keturunan Tionghoa dalam pengajian dari pukul 10.00-13.00 WIB.

"Setiap harinya, kami pun menerima siapapun, etnis Tionghoa khususnya yang ingin berkonsultasi tentang Islam. Jemaah yang datang banyak yang dari daerah yang jauh, seperti dari Cimahi, Cileunyi dan lain-lain," jelas Aang.

Aang menilai, ketika para sunan menyebarkan syiar Islam melalui pendekatan budaya, itu pulalah yang dilakukan masjid Lautze. Warna kuning dan merah yang dianggap sebagai warna sakral etnis Tionghoa dijadikan sebagai media pendekatan dakwah.

Dengan pendekatan seperti itu diharapkan para muslim Tionghoa tidak enggan untuk duduk dan beribadah di masjid Lautze 2.

"Meskipun kebanyakan masjid-masjid memakai warna hijau sebagai sunah rasul, tapi kan tidak ada yang melarang juga menggunakan warna lain," tambah Aang.

(ema/ern)

Kukuruyuk Weekend, Wisata Belanja di Bandung Selatan

Senin, 25/02/2008 08:26 WIB
Kukuruyuk Weekend, Wisata Belanja di Bandung Selatan
Ema Nur Arifah - detikBandung




Bandung
- Target pemerintah untuk menjadikan Bandung Kota wisata sepertinya disambut hangat oleh warga bandung, tak terkecuali pengusaha. Para pengusaha Bandung untuk berlomba-lomba membuka tempat hang out untuk menarik wisatawan baik lokal maupun domestik.

Keinginan untuk membuat sebuah tempat hang out di Bandung Selatan yang menjadi ide awal dibukanya tempat wisata belanja baru, Kukuruyuk Weekend Market.

"Bandung Utara kan sudah banyak, kini giliran Bandung Selatan," tutur general manager Kukuruyuk Weekend Market, Mulia.

Kukuruyuk, nama yang unik hingga ketika mendengarnya mungkin akan langsung menarik anda untuk datang. Berada di kawasan komplek Mekar Wangi, Kukuruyuk Weekend Market didirikan di atas tanah seluar 2,5 hektar.

Jika bosan dengan suasana mall, Kukuruyuk akan memberikan nuansa yang berbeda. Suasana open airnya berikut penataan yang lebih cenderung tradisional, akan membawa pada atmosfer belanja yang tak biasa.

Ketika memasuki area ini, di sisi kiri anda akan langsung di sambut oleh permainan balonku di sayap kiri. Masuk lebih dalam sebuah rangkaian bambu yang mirip instalasi bambu berdiri.

Jika dialirkan air melalui alat-alat yang terpasang di beberapa titik bambu, akan menghasilkan suara musik. Bangunan ini dinamakan alun-alun bambu.

Sebanyak 200 stand berderet secara berkelompok sesuai dengan jenis dagangannya. Sebut saja art & craft, fesyen, aksesoris, furniture, permainan anak-anak dan lain-lain.

Pengisi stand mayoritas dari kelompok Usaha Kecil dan Menengah (KUKM). Pemilihan pengisi stand pun cukup selektif, selain harus unik juga harga yang relatif terjangkau.

Untuk kuliner, disediakan area food court terpisah yang luas. Menyediakan sekitar 60 pilihan stand yang menyediakan makanan nasinal dan internasional.

Sarana rekreasi untuk anak-anak, seperti area berkuda, balonku, flying fox 80 meter, tapolin modern dan lain-lain.

Untuk yang tradisional, permainan rakyat dari Komunitas HONG akan akan mengajak anda pada masa kecil dulu. Display permainan rakyat berikut workshopnya akan memberikan menjadi pengisi waktu yang cukup menyenangkan.

Setiap akhir pekan, terselip acara untuk memeriahkan suasana market. Untuk Minggu ini misalnya, aeroshow layang-layang cukup membuat para pengunjung terpukau.

Acara lain, nyanyian dari anak-anak jalanan asuhan almarhum Harry Rusli yang akan berkeliling dari stand ke stand. Selain itu, anak jalanan tersebut akan memberikan demo pembuatan kertas daur ulang kepada pengunjung.

Karena konsep Kukuruyuk tradisional, maka musik-musik yang dihadirkan pun bernuansa tradisional seperti musik dari bali, angklung, Kecapi dan lain-lain.

Tempat yang baru dibuka 22 Februari ini memiliki lokasi yang strategis. Terletak dalam kompleks Istana Mekar Wangi, dengan akses masuk dari Jl. Mochamad Toha (keluar di Tol M. Toha), Jl. Soekarno Hatta atau Jl. Cibaduyut.

(ema/ern)

Rumentang Siang, Rumah Seni Minim Perawatan

Rabu, 27/02/2008 12:14 WIB
Rumentang Siang, Rumah Seni Minim Perawatan
Ema Nur Arifah - detikBandung




Bandung
- Seperti halnya gedung Asia Africa Culture Centre (AACC) yang bekas gedung bioskop Majestic, gedung kesenian ini bekas gedung bioskop Rivoli, Gedung Kesenian Rumentang Siang di Jalan Baranang Siang No 2, dekat Pasar Kosambi.

Pada masa itu, gedung kesenian yang baru ada adalah gedung Yayasan Pusat kebudayaan (YPK). Sebagai persembahan bagi para seniman, sebelum masa tugasnya berakhir, Gubernur Jawa Barat, Solihin GP membuatkan gedung kesenian Rumentang Siang di tahun 1975.

"Gedung Rumentang Siang merupakan peninggalan dari gubernur Solihin GP untuk para seniman," jelas pengelola GK. Rumentang Siang, Cece Raksa, yang sudah ikut mengelola sejak gedung ini berdiri.

Sebelum nama Rumentang Siang ditetapkan, nama Kandaga Bandung sempat dilontarkan oleh Walikota Bandung saat itu, Oce Djunjunan.

Penyair, Wahyu Wibisana lah yang mengajukan nama Rumentang Siang. Dalam bahasa Sunda, Rumentang diambil dari kata rentang-rentang yaitu samar-samar terlihat dari kejauhan untuk mendekat, sedangkan siang berarti nyata.

Secara keseluruhan, Rumentang Siang bisa diartikan ketika berbagai seniman dengan beragam kesenian dari berbagai daerah yang jauh masih samar-samar, tidak terlihat. Namun ketika ada GK. Rumentang Siang, keberadaan mereka akan lebih nyata.

Sebagai salah satu bangunan bersejarah peninggalan Belanda, pembangunan GK. Rumentang Siang tak merubah struktur bangunan. Hanya interior ruangan yang mengalami perubahan untuk dibangun sebuah panggung dan kamar rias.

Sejak pendiriannya hingga tahun 1982, berbagai kesenian unggulan daerah di gelar di tempat ini. Tak hanya itu, sampai tahun 2000, kerjasama kebudayaan dengan beberapa negara dijalin. Misalnya dengan Japan Foundation, British Council juga kedutaan besar Australia.

Namun, alasan tak ada biaya serta kemunduran kondisi gedung membuat kerjasama itu tak lagi dilakukan. Sarana prasarana seperti kursi, sound system dan light sistem tak cukup memadai.

"Kami tidak mungkin melakukan kerjasama dengan kondisi gedung yang sudah kurang bagus. Hingga kami harus berpikir 2 sampai 3 kali untuk melakukan itu. Lagipula tidak ada biaya, minimal untuk biaya produksi," tutur Cece.

Rumentang Siang berkapasitas 347 orang penonton. Dengan luas panggung 8 x 12 meter, sebenarnya kurang memenuhi syarat panggung sebuah pertunjukan. Diperlukan kedalaman panggung yang lebih dalam.

Cece mengaku, hingga sekitar pertengahan tahun 2003, Rumentang Siang masih mendapat kucuran dana dari pemerintah provinsi. Kini, pengelolaan Rumentang Siang tidak mendapatkan perhatian optimal dari pemerintah.

Untuk fisik bangunan, pengelolaan Rumentang Siang berada di bawah PT. Jasa Wisata, sementara untuk program dibawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung.

Antara tahun 2004-2005, Disbudpar pernah melakukan ronovasi panggung juga toilet. Namun, dari pihak Disbudpar sendiri mengakui bahwa secara administratif, GK. Rumentang Siang tidak di bawah Disbudpar, tapi di bawah PT. Jawi. Sehingga untuk pengelolaan fisik merupakan tanggung jawab PT. Jawi.

Cece mengharapkan akan dikeluarkannya Perda yang mengatur tanggung jawab pengelolaan fisik gedung. Di mana bukan lagi PT. Jawi yang bertanggung jawab, melainkan Disbudpar.

Saat ini hampir tidak ada biaya perawatan gedung. Untuk operasionalisasi lebih banyak mengandalkan dari hasil penjualan tiket petunjukan. Padahal, untuk satu bulan diperlukan anggaran sekitar Rp 8 juta, termasuk untuk honor karyawan.

"Delapan juta itu angka yang sudah sangat nge-pas," ujar Cece.

Setiap hari, GK. Rumentang Siang tak pernah sepi. Sebagai tempat latihan, baik tari atau teater maupun tempat berkumpulnya para seniman Bandung.

Agenda-agenda pertunjukan senantiasa menghangatkan GK sudah sekitar 80 tahun berdiri. Walaupun tak lagi sepadat masa-masa sebelumnya.

Seperti halnya 11 Februari hingga 1 Maret 2008 ini, sebuah festival tahunan kembali digelar, Festival Drama Basa Sunda (FDBS) oleh Teater Sunda Kiwari.(ema/ern)

Mengintip Bintang di Observatorium Bosscha

Kamis, 10/04/2008 09:50 WIB
Mengintip Bintang di Observatorium Bosscha
Jana Silniodi - detikBandung




Bandung
- Kegelapan langit malam bagi sebagian orang memberikan ketakutan, namun di tempat wisata ini kegelapan malam sangat diharapkan. Observatorium Bosscha dapat menjadi alternatif tempat wisata di Lembang yang menawarkan paket wisata pendidikan astronomi. Namun bukan berarti tempat ini hanya dibuka di malam hari, karena tak hanya bisa mengintip benda-benda di langit, suasana alam dan bangunan tempo dulu yang sarat akan sejarah jadi objek lain yang jangan dilewatkan.

Bosscha dibangun 1 Januari 1923 oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda. Sebagai bentuk penghargaan atas jasa Karel Albert Rudolf (K.A.R) Bosscha yaitu seorang tuan tanah di perkebunan teh Malabar yang menyandang dana utama dalam pembangunan observatorium, maka nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium ini.

Pada tanggal 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan observatorium ini kepada pemerintah RI. Setelah Institut Teknologi Bandung (ITB) berdiri pada tahun 1959, Observatorium Bosscha menjadi bagian dari ITB. Selanjutnya, tempat ini difungsikan sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal Astronomi di Indonesia. Obeservatorium Bosscha merupakan satu-satunya observatorium di Asia Tenggara yang mengamati belahan Bumi selatan.

Dalam kapasitasnya sebagai tempat tujuan wisata, Observatorium Bosscha memberikan pendidikan dan pengetahuan astronomi bagi pelajar maupun masyarakat. Jika berniat datang ke tempat ini pada siang hari terdapat tiga sesi kunjungan yaitu pada jam 09.00 WIB, 12.00 WIB, dan 15.00 WIB yang buka setiap hari. Kunjungan pada malam hari dimulai dari pukul 17.00 WIB hingga 20.00 WIB dan hanya dilakukan selama tiga hari per bulannya, penentuan waktu ditentukan oleh pihak pengelola berdasarkan kondisi cuaca.

"Pelajar yang datang ke sini berasal dari semua kalangan, dimulai taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Ada dua sesi yang dilakukan saat berkegiatan di Bosscha, pertama penjelasan mengenai benda-benda langit atau pengetahuan astronomi kemudian dilanjutkan dengan penjelasan pengamatan di ruang peneropongan" ujar astronom ITB, Mochamad Irfan.

Tarif masuk yang dikenakan pada pengunjung yaitu sebesar Rp 3000 untuk pelajar dan Rp 5000 untuk umum. Jika memakai kendaraan pribadi atau travel, untuk mencapai Observatorium Bosscha dari pusat kota Bandung menuju ke arah Lembang dapat ditempuh selama 30 menit. Bagi yang memakai kendaraan umum, dari pusat kota Bandung ke arah terminal ledeng dilanjutkan dengan angkutan St.Hall-Lembang atau Ledeng-Subang. Di jalan raya Bandung-Lembang sebelum pertigaan arah Cisarua, berbelok ke kanan menaiki bukit yang menjadi lokasi observatorium. Untuk pengunjung yang memakai kendaraan bus atau kendaraan umum, dari tempat ini dapat memilih memakai jasa angkutan ojeg atau berjalan kaki sekitar 4 km.

Observatorium Bosscha berada di daerah Lembang yang memiliki ketinggian 1300 meter di atas permukaan laut. Tak heran tempat ini memiliki suhu udara yang cukup menusuk tulang di malam hari. Selain itu, alasan pemilihan daerah Lembang sebagai tempat pembangunan observatorium ini karena kondisi geologinya yang stabil serta di daerah ini pada masa lalu masih jarang terdapat permukiman penduduk dan kawasan sekitarnya masih berupa lahan yang ditumbuhi pepohonan.

"Seharusnya permukiman yang dibangun di sekeliling observatorium harus berada di area sekitar dua hingga lima kilometer, dengan semakin padatnya permukiman di sekeliling tempat ini secara tidak langsung berpengaruh terhadap penurunan aktifitas penelitian dan pengamatan," papar Mochamad Irfan.


(ema/ema)

Gedung Jiwasraya, Dari Asuransi Sampai Tempat Syuting

Rabu, 09/07/2008 11:56 WIB
Gedung Jiwasraya, Dari Asuransi Sampai Tempat Syuting
Ema Nur Arifah - detikBandung




Bandung
- Unsur-unsur estetis yang terdapat pada bangunan-bangunan bersejarah karya arsitektur Belanda sepertinya menjadi sasaran empuk para produser dunia hiburan. Selain Gedung Sate atau Jalan Braga, gedung yang sekarang digunakan sebagai kantor asuransi pun tak ketinggalan menjadi lokasi syuting.

Gedung Jiwasraya, terletak di Jalan Asia Afrika No 53, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, berhadapan dengan bagian pinggir Mesjid Raya Bandung. Dibangun pada tahun 1859 di atas tanah seluas 3.289 meter persegi dengan laus bangunan 1.996 meter persegi.

Bangunan ini karya sebuah biro arsitektur Belanda yang nama arsiteknya belum diketahui. Gedung ini dibangun oleh perusahaan asuransi jiwa milik Belanda, Nederlanche Indische Levens Verzekiring En Lijfren Maatcaappij (NILLNY). Perusahaan ini merupakan perusahaan asuransi jiwa pertama di Indonesia.

Gaya arsitektur dengan ornamen khas neo klasik art deco lah yang mungkin membuat diva Indonesia, Melly Goeslaw tertarik untuk menjadikan tempat ini bagian dari film gubahannya, Butterfly yang dirilis beberapa waktu lalu.

"Ya, gedung ini pernah menjadi tempat syuting film Butterfly. Ke depan juga akan dipakai syuting iklan," jelas Bagian Umum Jiwasraya, Hendra tanpa menyebutkan produsen iklan yang akan menggunakan gedung ini untuk syuting.

Wajar kiranya jika tempat ini dijadikan frame untuk sebuah film. Kelangkaan dan keunikannya sudah tampak dari luar gedung. Ketika masuk ke dalam, gaya khas bangunan belanda dengan langit-langit yang tinggi serta tembok-tembok tebal kokoh bercat krem makin menguatkan nuansa kolonialnya.

Bangunan ini terdiri dari dua lantai. Di bagian tangga, setting film Butterfly diambil. Gedung ini terdiri dari bagian depan dan belakang. Sebuah lorong menghubungkan dua bagian ini di lantai bawah. Ada beberapa bagian bangunan belakang gedung yang kelihatannya tidak terlalu dirawat. Terlihat ada bagian langit-langitnya yang terkelupas atau dinding-dinding dengan warna memudar.

Menurut Hendra, pihak Jiwasraya sampai saat ini tak pernah mengubah bagian-bagian gedung karena tidak diperbolehkan pemerintah sebagai gedung bersejarah. "Paling kami melakukan pengecatan, itupun masih disesuaikan dengan cat sebelumnya," ujar Hendra.

Kekuatan unsur sejarahnya diperkuat pula dengan berdirinya sebuah stilasi dari 10 stilasi rekaman sejarah Bandung Lautan Api yang berada di depan bangunan.
(ema/ern)

Sekolah Bergengsi di Bangunan Cagar Budaya

Selasa, 15/07/2008 08:44 WIB
Sekolah Bergengsi di Bangunan Cagar Budaya
Ema Nur Arifah - detikBandung




Bandung
- Mendengar nama SMU 3 dan SMU 5 ingatan langsung tertuju pada dua sekolah favorit yang terletak di Jalan Belitung No 8. Berada di antara Jalan Bali dan Jalan Kalimantan, sekolah ini menduduki sebuah bangunan bersejarah peninggalan zaman kolonial.

Sekolah yang pernah menjadi tempat menimba ilmu Sri Sultan Hamengkubuwono IX di masa Hindia Belanda ini, sebelumnya dinamakan Hoorege Burgerschool (HBS). Dibangun pada tahun 1916 oleh pemerintah Hindia Belanda yang dirancang oleh arsitek C.P Schoemaker.

Dibangun di atas tanah seluas 14.240 meter persegi dengan luas bangunan 8.220 meter persegi. Dari tahun ke tahun, fungsi bangunan terus mengalami peralihan. Dimulai sebagai HBS di tahun 1916-1942, jadi markas tentara Jepang di tahun 1942-1945. Sedangkan tahun 1947-1952 disebut jaman peralihan, direntang tahun ini berfungsi sebagai sekolah VHO (Voortgezet Hoger Onderwys) dan SMA Negeri 1.

Dari tahun 1952 ditempati oleh empat sekolah yaitu SMA 2, SMA 5, SMA 3 dan SMA 6. Tahun 1961 SMA 2 pindah ke Jalan Cihampelas sedangkan SMA 6 ke Jalan Pasirkaliki. Maka sejak tahun 1966, gedung ini ditempati dua sekolah sampai sekarang yaitu SMA 3 dan SMA 5 dibawah pengelolaan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

Sebelah barat bangunan ditempati oleh SMA 3 sedangkan sebelah timur ditempati SMA 5. Kedua sekolah ini dipisahkan oleh koridor yang bisa menjadi jalur penghubung antara SMA 3 dan SMA 5.

Di kedua sayap bisa ditemukan lemari kaca dengan deretan piala-piala di dalamnya. Memang, sejak dulu kedua SMA ini dikenal sebagai SMA yang mencetak siswa-siswi berprestasi sehingga wajar menjadi sekolah unggulan yang jadi target siswa-siswi SMP untuk melanjutkan sekolah.

Dua tangga besar di kiri dan kanan koridor menghubungkan lantai bawah dan atas, menyambung menjadi satu tangga menuju sebuah ruangan luas di lantai dua. Ruangan ini serupa aula terbuka yang digunakan oleh dua sekolah secara bergiliran.

Dinding-dinding tebal dengan tinggi sekitar 6-7 meter memperlihatkan kekhasan bangunan peninggalan Hindia Belanda. Jendela-jendela dan pintu berventilasi berderet menjadi ciri khas bangunan ini. Jejak kaki pun berpijak pada keramik-keramik klasik bernuansa gelap paduan abu-abu, kuning, merah dan hitam.

Tak banyak perubahan di bangunan ini. Apalagi untuk bangunan bagian depan tidak boleh dirubah sama sekali.

Seperti dituturkan Wakasek Humas dan Rencana Pembangunan SMA 5 Yenny Gantini. Menurutnya sebagai bangunan yang termasuk cagar budaya, bangunan SMA 5 dan SMA 3 harus dilestarikan.

"Guru-guru dengan warga sekolah lainnya bersatu sama-sama mendukung agar menegakan 6 K, kebersihan, keindahan, kemananan, kekeluargaan dan lain-lain," jelas Yenni.

Menurut Yenni, ada 13 ruangan dari 30 ruangan di SMA 5 yang termasuk bagian bangunan bersejarah yaitu 10 ruang kelas, 1 ruang perpustakaan, 1 ruang BP dan 1 ruang audio visual.

Wakasek Sarana Prasarana SMA 5, Suhendri menyatakan bangunan SMA 5 sendiri luasnya 7.120 meter persegi. Di tahun 2008-2009 pihak skeolah melakukan perawatan dan pemeliharaan berupa pengecatan, penggantian talang bocor tanpa merubah ketentuan konservasi cagar budaya.

"Untuk bagian luar tidak boleh dirubah sama sekali termasuk warna catnya, sedangkan bagian dalam warna cat boleh beda," jelasnya. Sebelum melakukan perubahan, pihak sekolah berkonsultasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta Bandung Heritage.

Suhendri mengungkapkan, saat ini pihak SMA 5 sedang mengajukan untuk mengganti lantai sebab ada bagian-bagian lantai yang bergelombang. Namun menurut Hendri, pihak sekolah masih menunggu keputusan pihak pemerintah mengenai pengajuan tersebut.

Untuk setiap perubahan yang akan dilakukan, sambung Suhendri, pihak SMA 5 selalu bekerjasama dengan pihak SMA 3.
(Ema/dari berbagai sumber)
(ema/ern)

Bangunan Kolonial Yang Sulit Perawatan

Jumat, 25/07/2008 08:26 WIB
Bangunan Kolonial Yang Sulit Perawatan
Ema Nur Arifah - detikBandung




Bandung
- Eloknya bangunan-bangunan peninggalan masa kolonial memang menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Bandung. Tapi merawat bangunan-bangunan yang masuk sebagai bangunan cagar budaya ini tidak mulus begitu saja. Beberapa perawatannya malah agak menyulitkan pengelola gedung saat ini.

Misalnya bangunan Kantor Pos Besar Bandung yang terletak di Jalan Asia Afrika No.49 dan Jalan Banceuy. sekitar tahun 1972-1974 kantor ini berfungsi sebagai Kantor Pos dan Telegraf (posten telegraf kantoor). Pada tahun 1985 bangunan ini hanya digunakan oleh PT Pos.

Bangunan karya arsitek ternama J. Ven Gendt ini menggunakan atap metal atau plat baja yang tidak bisa ditemukan lagi saat ini. Bangunan beratap metal merupakan salah satu ciri umum pada bangunan yang terletak di sudut jalan, khususnya Kota Bandung.

"Saat atap rusak kami kesulitan cari bahan yang sama karena bahannya berasal dari plat baja," jelas Asep Sudiana, Staff Sarana Kantor Pos Besar Bandung.

Menurut Asep, tahun 2007 pihak PT Pos menyusun perubahan untuk atap agar diganti sirap tapi tidak diperbolehkan karena termasuk bangunan bersejarah. Akhirnya kami mencari alternatif atap lain yang mendekati plat baja.

"Namun hanya dalam waktu 2 sampai 3 bulan saja masih terlihat baru berbeda dengan atap lama yang bertahan sampai puluhan tahun," jelas Asep.

Selain atap tidak perubahan pada sisi heritagenya. Kalaupun ada perubahan-perubahan yang dilakukan PT Pos untuk menyesuaikan dengan kebutuhan operasional pelayanan publik. Misalnya perubahan lantai menjadi marmer pada bagian pelayanan di gedung induk bagian depan Kantor Pos Besar Bandung.

Menurut Asep bangunannya sendiri 98 persen masih bangunan lama. Penambahan bangunan di bagian belakang tetap menggunakan peninggalan bangunan lama hanya disesuaikan dengan kebutuhan.

"Yang tidak diperbolehkan adalah merubah ornamen-ornamennya. Untuk jendela masih sama seperti dulu," ujar Asep.

Bangunan bergaya art deco geometrik yang langka dan unik dibangun selama empat tahun dari 1928 sampai 1931. Dibangun di atas tanah seluas 6000 meter persegi dengan luas bangunan 4.846 meter persegi dan terdiri dari dua lantai.

Nilai-nilai arsitekturnya sudah tampak dari luar bangunan. Pada kiri dan kanan puncak atap terdapat hiasan hiasan. Langit-langit yang menjulang setinggi 11 meter memperlihatkan kemegahan sebuah masa. Potret Bandung tempo dulu yang masih bisa dinikmati dengan leluasa.(ema/afz)