Tampilkan postingan dengan label Bangunan Kolonial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bangunan Kolonial. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 November 2009

Bangunan Kolonial Yang Sulit Perawatan

Jumat, 25/07/2008 08:26 WIB
Bangunan Kolonial Yang Sulit Perawatan
Ema Nur Arifah - detikBandung




Bandung
- Eloknya bangunan-bangunan peninggalan masa kolonial memang menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Bandung. Tapi merawat bangunan-bangunan yang masuk sebagai bangunan cagar budaya ini tidak mulus begitu saja. Beberapa perawatannya malah agak menyulitkan pengelola gedung saat ini.

Misalnya bangunan Kantor Pos Besar Bandung yang terletak di Jalan Asia Afrika No.49 dan Jalan Banceuy. sekitar tahun 1972-1974 kantor ini berfungsi sebagai Kantor Pos dan Telegraf (posten telegraf kantoor). Pada tahun 1985 bangunan ini hanya digunakan oleh PT Pos.

Bangunan karya arsitek ternama J. Ven Gendt ini menggunakan atap metal atau plat baja yang tidak bisa ditemukan lagi saat ini. Bangunan beratap metal merupakan salah satu ciri umum pada bangunan yang terletak di sudut jalan, khususnya Kota Bandung.

"Saat atap rusak kami kesulitan cari bahan yang sama karena bahannya berasal dari plat baja," jelas Asep Sudiana, Staff Sarana Kantor Pos Besar Bandung.

Menurut Asep, tahun 2007 pihak PT Pos menyusun perubahan untuk atap agar diganti sirap tapi tidak diperbolehkan karena termasuk bangunan bersejarah. Akhirnya kami mencari alternatif atap lain yang mendekati plat baja.

"Namun hanya dalam waktu 2 sampai 3 bulan saja masih terlihat baru berbeda dengan atap lama yang bertahan sampai puluhan tahun," jelas Asep.

Selain atap tidak perubahan pada sisi heritagenya. Kalaupun ada perubahan-perubahan yang dilakukan PT Pos untuk menyesuaikan dengan kebutuhan operasional pelayanan publik. Misalnya perubahan lantai menjadi marmer pada bagian pelayanan di gedung induk bagian depan Kantor Pos Besar Bandung.

Menurut Asep bangunannya sendiri 98 persen masih bangunan lama. Penambahan bangunan di bagian belakang tetap menggunakan peninggalan bangunan lama hanya disesuaikan dengan kebutuhan.

"Yang tidak diperbolehkan adalah merubah ornamen-ornamennya. Untuk jendela masih sama seperti dulu," ujar Asep.

Bangunan bergaya art deco geometrik yang langka dan unik dibangun selama empat tahun dari 1928 sampai 1931. Dibangun di atas tanah seluas 6000 meter persegi dengan luas bangunan 4.846 meter persegi dan terdiri dari dua lantai.

Nilai-nilai arsitekturnya sudah tampak dari luar bangunan. Pada kiri dan kanan puncak atap terdapat hiasan hiasan. Langit-langit yang menjulang setinggi 11 meter memperlihatkan kemegahan sebuah masa. Potret Bandung tempo dulu yang masih bisa dinikmati dengan leluasa.(ema/afz)

SD Asmi, Bangunan Kolonial Saksi Bandung Lautan Api

umat, 03/04/2009 09:06 WIB
SD Asmi, Bangunan Kolonial Saksi Bandung Lautan Api
Ema Nur Arifah - detikBandung




Bandung
- Di tengah peristiwa bangunan SD yang roboh di Bandung, bangunan SD Asmi di Gang Asmi, kawasan Jalan Pungkur, masih kokoh berdiri. Padahal bangunan tersebut sudah beroperasi sebagai SD sejak tahun 1946.

Kekokohan dan kemegahan bangunannya tampak jelas terlihat. Tentu saja, bukan sembarang arsitektur karena bangunan ini peninggalan termasuk bangunan cagar budaya peninggalan zaman kolonial.

Namun, Kepala Sekolah SD Asmi Imammudin S. tidak tahu persis kapan kiranya bangunan ini berdiri. "Operasional SD kan baru tahun 1946. Pastinya sudah dibangun sebelum tahun tersebut," ujarnya.

Bukan sekadar bangunan peninggalan, SD Asmi menjadi salah satu tempat yang menjadi saksi bisu peristiwa Bandung Lautan Api.

Sebelum digunakan sebagai SD, bangunan ini digunakan sebagai markas pemuda pejuang PESINDO dan ABRI sebelum terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api. Untuk mengabadikan peristiwa tersebut, sebuah stilasi yang disebut stilasi ke-9 dari sepuluh rangkaian stilasi Bandung Lautan Api pun menghiasi bagian depan sekolah.

"Kalau setiap peringatan Bandung Lautan Api sekolah pasti ramai. Malam harinya suka ada veteran yang melakukan napak tilas," ujar Imam.

Dinding yang tinggi dan tembok yang tebal sudah menjadi ciri khas bangunan Belanda. Berdiri di atas tanah seluas 1.800 meter persegi, bangunan aslinya hanya terdiri dari delapan ruangan. Masing-masing seluas 7 kali 8 meter. Selebihnya adalah bangunan-bangunan tambahan yang dibangun oleh pihak sekolah.

Meski kokoh tak berarti pihak sekolah tidak menghadapi kendala. Persoalan-persoalan ringan seperti kebocoran, cat atau plafon yang terkelupas seringkali terjadi. Tanpa mengubah bentuk bangunan asli, pihak sekolah melakukan perawatan sebagaimana mestinya.

Selama ini diakui Imam, biaya perawatan sekolah berasal dari Diknas. Tapi tak berarti sebagai bangunan cagar budaya SD Asmi diistimewakan. Karena biaya perawatan sekolah memang sudah termasuk dalam anggaran Diknas untuk setiap sekolah.

Tapi Imam juga berharap, dalam proses inventarisir bangunan cagar budaya yang sedang dilakukan oleh pemerintah, SD Asmi bisa termasuk di dalamnya. Sehingga dalam pemeliharaanya, bisa lebih maksimal.(ema/ern)