Tampilkan postingan dengan label Sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekolah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 November 2009

Sekolah Bergengsi di Bangunan Cagar Budaya

Selasa, 15/07/2008 08:44 WIB
Sekolah Bergengsi di Bangunan Cagar Budaya
Ema Nur Arifah - detikBandung




Bandung
- Mendengar nama SMU 3 dan SMU 5 ingatan langsung tertuju pada dua sekolah favorit yang terletak di Jalan Belitung No 8. Berada di antara Jalan Bali dan Jalan Kalimantan, sekolah ini menduduki sebuah bangunan bersejarah peninggalan zaman kolonial.

Sekolah yang pernah menjadi tempat menimba ilmu Sri Sultan Hamengkubuwono IX di masa Hindia Belanda ini, sebelumnya dinamakan Hoorege Burgerschool (HBS). Dibangun pada tahun 1916 oleh pemerintah Hindia Belanda yang dirancang oleh arsitek C.P Schoemaker.

Dibangun di atas tanah seluas 14.240 meter persegi dengan luas bangunan 8.220 meter persegi. Dari tahun ke tahun, fungsi bangunan terus mengalami peralihan. Dimulai sebagai HBS di tahun 1916-1942, jadi markas tentara Jepang di tahun 1942-1945. Sedangkan tahun 1947-1952 disebut jaman peralihan, direntang tahun ini berfungsi sebagai sekolah VHO (Voortgezet Hoger Onderwys) dan SMA Negeri 1.

Dari tahun 1952 ditempati oleh empat sekolah yaitu SMA 2, SMA 5, SMA 3 dan SMA 6. Tahun 1961 SMA 2 pindah ke Jalan Cihampelas sedangkan SMA 6 ke Jalan Pasirkaliki. Maka sejak tahun 1966, gedung ini ditempati dua sekolah sampai sekarang yaitu SMA 3 dan SMA 5 dibawah pengelolaan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

Sebelah barat bangunan ditempati oleh SMA 3 sedangkan sebelah timur ditempati SMA 5. Kedua sekolah ini dipisahkan oleh koridor yang bisa menjadi jalur penghubung antara SMA 3 dan SMA 5.

Di kedua sayap bisa ditemukan lemari kaca dengan deretan piala-piala di dalamnya. Memang, sejak dulu kedua SMA ini dikenal sebagai SMA yang mencetak siswa-siswi berprestasi sehingga wajar menjadi sekolah unggulan yang jadi target siswa-siswi SMP untuk melanjutkan sekolah.

Dua tangga besar di kiri dan kanan koridor menghubungkan lantai bawah dan atas, menyambung menjadi satu tangga menuju sebuah ruangan luas di lantai dua. Ruangan ini serupa aula terbuka yang digunakan oleh dua sekolah secara bergiliran.

Dinding-dinding tebal dengan tinggi sekitar 6-7 meter memperlihatkan kekhasan bangunan peninggalan Hindia Belanda. Jendela-jendela dan pintu berventilasi berderet menjadi ciri khas bangunan ini. Jejak kaki pun berpijak pada keramik-keramik klasik bernuansa gelap paduan abu-abu, kuning, merah dan hitam.

Tak banyak perubahan di bangunan ini. Apalagi untuk bangunan bagian depan tidak boleh dirubah sama sekali.

Seperti dituturkan Wakasek Humas dan Rencana Pembangunan SMA 5 Yenny Gantini. Menurutnya sebagai bangunan yang termasuk cagar budaya, bangunan SMA 5 dan SMA 3 harus dilestarikan.

"Guru-guru dengan warga sekolah lainnya bersatu sama-sama mendukung agar menegakan 6 K, kebersihan, keindahan, kemananan, kekeluargaan dan lain-lain," jelas Yenni.

Menurut Yenni, ada 13 ruangan dari 30 ruangan di SMA 5 yang termasuk bagian bangunan bersejarah yaitu 10 ruang kelas, 1 ruang perpustakaan, 1 ruang BP dan 1 ruang audio visual.

Wakasek Sarana Prasarana SMA 5, Suhendri menyatakan bangunan SMA 5 sendiri luasnya 7.120 meter persegi. Di tahun 2008-2009 pihak skeolah melakukan perawatan dan pemeliharaan berupa pengecatan, penggantian talang bocor tanpa merubah ketentuan konservasi cagar budaya.

"Untuk bagian luar tidak boleh dirubah sama sekali termasuk warna catnya, sedangkan bagian dalam warna cat boleh beda," jelasnya. Sebelum melakukan perubahan, pihak sekolah berkonsultasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta Bandung Heritage.

Suhendri mengungkapkan, saat ini pihak SMA 5 sedang mengajukan untuk mengganti lantai sebab ada bagian-bagian lantai yang bergelombang. Namun menurut Hendri, pihak sekolah masih menunggu keputusan pihak pemerintah mengenai pengajuan tersebut.

Untuk setiap perubahan yang akan dilakukan, sambung Suhendri, pihak SMA 5 selalu bekerjasama dengan pihak SMA 3.
(Ema/dari berbagai sumber)
(ema/ern)

Sekolah Peninggalan Dewi Sartika

Jumat, 16/01/2009 07:57 WIB
Sekolah Peninggalan Dewi Sartika
Ema Nur Arifah - detikBandung




Bandung
- Tidak hanya tercatat sebagai pahlawan nasional, pejuang emansipasi wanita asal Jawa Barat Rd. Dewi Sartika pun meninggalkan warisan sejarah yang masih dimanfaatkan sampai sekarang. Peninggalan tersebut dinamakan situs Dewi Sartika. Tak jarang orang menyebutnya Museum Dewi Sartika.

Tapi bukanlah museum pada umumnya dengan benda-benda peninggalan Dewi Sartika di dalamnya. Situs Dewi Sartika ini adalah bangunan sekolah di Jalan Kautamaan Istri, kawasan Kebon Kalapa yang menyediakan pendidikan untuk SD dan SMP.

Dewi Sartika dilahirkan 4 Desember 1884. Pada tahun 1904, Dewi Sartika mendirikan sekolah untuk perempuan pertama di Indonesia yang dinamakan "Sakola Istri'. Lokasinya saat itu ada di paseban Kabupaten. Pada tahun 1910, nama sekolah tersebut diganti menjadi "Sakola Kautamaan Istri'.

Pada perayaan 25 tahun Sakola Kautamaan Istri, Dewi Sartika menerima hadiah dari pemerintah Belanda berupa bangunan sekolah baru di Jalan Kautamaan Istri.

Setelah Dewi Sartika wafat pada 11 September 1947, para alumni Sakola Kautamaan Istri mendirikan Yayasan Dewi Sartika pada 17 April 1955. Yayasan Dewi Sartika ini menaungi TK, SD, dan SMP Dewi Sartika yang kini masih berada di Jalan Kautamaan Istri dengan luas lahan 1428 meter persegi.

Menurut Kepala Sekolah SMP Dewi Sartika Rukiyah Samsimiharja, peninggalan asli dari Dewi Sartika hanya enam ruang kelas yang berada di bagian depan sekolah. "Bangunan tersebut masih asli. Kalaupun ada yang dipugar tidak berubah dari bangunan aslinya," tutur Rukiyah.

Secara keseluruhan keenam ruang kelas ini tidak mengalami perubahan mendasar. Baik dari bentuk bangunan, tiang-tiang penyangga juga kawat-kawat yang berfungsi sebagai jendela tidak diganti sama sekali.

"Kalau hujan pun anak-anak lebih baik menggeserkan tempat duduknya kalau kecipratan air hujan. Karena jendela kawat ini tidak boleh dirubah sama sekali," ujar Rukiyah.

Enam ruang kelas tersebut digunakan untuk SMP. Sedangkan untuk SD ruangan kelas ada di bagian belakang bangunan asli. Untuk bangunan TK sendiri lokasinya terpisah yaitu di Jalan Logam.

Tapi dari enam kelas, hanya satu kelas yang di dalamnya ada potret Dewi Sartika. Dengan bentuk bangku disesuaikan dengan bentuk bangku semasa Dewi Sartika masih hidup dulu. Selebihnya, tidak ada catatan atau peninggalan Dewi Sartika lainnya yang memeprlihatkan bisa dilihat. Patung Dewi Sartika sekalipun tersimpan di Balaikota Bandung.

Sebuah tugu yang berada di pinggir lapangan sekolah juga bukan peninggalan Dewi Sartika. Menurut Rukiyah tugu tersebut peninggalan pasukan Kodam yang pernah menjadikan sekolah ini sebagai markas saat masa perjuangan dulu.

Dalam sebuah prasasti tertulis pemugaran bangunan sekoah Dewi Sartika dilakukan pada tahun 1982. Pemugaran tersebut menurut Rukiyah atas bantuan dari pemerintah. Begitupun setiap kali pemugaran dilakukan atas bantuan dari pemerintah.

Sampai saat ini Rukiyah mengaku pihaknya masih membutuhkan bantuan dari pemerintah untuk mengembangkan sekolah. Rukiyah dan pihak Yayasan Dewi Sartika pun menginginkan ada pemugaran untuk kelas-kelas peninggalan Dewi Sartika sebagai salah satu cara mengembangkan sekolah.

Menurut Rukiyah pihaknya mengharapkan lima dari enam kelas tersebut bisa dipugar. Sedangkan satu kelas dibiarkan seperti bentuk aslinya. Kelas tersebut benar-benar difungsikan sebagai Museum Dewi Sartika yang tidak digunakan sebagai tempat belajar siswa.

"Tapi pemerintah tidak mengijinkan," ujarnya.