Rabu, 07 April 2010

Penentuan Ulang Waktu Subuh

Penentuan Ulang Waktu Subuh Perlu Libatkan Ormas Islam
Rabu, 7 April 2010 | 23:35 WIB
Robert Adhi Ksp/KOMPAS
Ilustrasi

SURABAYA, KOMPAS.com - Penentuan ulang waktu shalat Subuh di Indonesia sebagaimana usulan PP Muhammadiyah perlu melibatkan sejumlah ormas Islam yang lain.

"Penentuan waktu shalat Subuh perlu melibatkan ormas Islam lainnya," kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, K.H. Abdusshomad Buchori, di Surabaya, Rabu (7/4/2010).

Bahkan kalau perlu, dibahas dalam kongres nasional sehingga penetapan waktu subuh dapat diterima oleh seluruh umat Islam di Indonesia.

Sebelum dibahas dalam kongres, penetapan waktu shalat Subuh perlu penelitian oleh para ahli ilmu perbintangan (falak) dari berbagai aliran.

Namun, yang memiliki peran penting dalam melakukan kajian itu adalah Kementerian Agama (Kemenag).

Sebelumnya Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengeluarkan pernyataan, waktu subuh di Indonesia terlalu pagi dibandingkan dengan negara-negara lain, terutama yang berada di kawasan Timur Tengah.

Muhammadiyah berkesimpulan, subuh di Indonesia ditetapkan pada saat matahari berada pada posisi 20 derajat di bawah ufuk, sedangkan di negara-negara lain berkisar antara 16 hingga 18 derajat di bawah ufuk.

Hal ini yang mengakibatkan waktu subuh di Indonesia kepagian, meskipun mempertimbangkan keluarnya fajar sodik dan fajar kazib yang merupakan pertanda pergantian hari.

Walau begitu, MUI tetap menyatakan salat subuh yang biasa dijalani umat Muslim di Indonesia tetap sah karena yang menentukan sah dan tidaknya ibadah salat adalah niat.

Sementara itu, Pimpinan Wilayah Muhamadiyah Jatim mendukung penetapan ulang waktu subuh di Indonesia.

"Memang harus ada penetapan ulang melalui kajian ilmu falak," kata Ketua PW Muhammadiyah Jatim, Syafiq Mughni.


Editor: bnj | Sumber : ANT

Selasa, 06 April 2010

Papua Miliki Keragaman Arkeologi

Papua Miliki Keragaman Arkeologi
Rabu, 7 April 2010 | 06:42 WIB
DOKUMENTASI PUSPO BUDOYO
Ilustrasi

JAYAPURA, KOMPAS.com - Wilayah Papua memiliki peninggalan arkeologi yang sangat beragam dan cukup lengkap dari sisi pembabakan sejarah, mulai dari masa prasejarah hingga zaman pendudukan kolonial.

"Situs arkeologi yang ada di Papua merupakan kekayaan sejarah mengenai perjalanan perkembangan peradaban bangsa Indonesia," kata Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Arkeologi Nasional, Dr Tony Djubiantono di Jayapura, Rabu (7/4/2010).

Situs arkeologi yang ditemukan di Papua, adalah situs yang berkaitan dengan perkembangan antropologi, budaya, etnik dan peninggalan kolonial.

Tony mengatakan, situs purbakala tertua yang ditemukan di Pulau Papua berusia prasejarah, yaitu 40.000-30.000 tahun sebelum masehi.

Situs yang berlokasi di Kabupaten Biak ini berupa gua-gua yang pada dindingnya dijumpai lukisan-lukisan dan fosil-fosil moluska atau cangkang kerang.

Penemuan fosil moluska menjadi indikator penting adanya aktivitas manusia purbakala, karena pada periode waktu tersebut menjadi makanan pokok bagi manusia prasejarah.

Selain di Biak, penemuan dari zaman megalitikum terdapat di Situs Tutari, Kabupaten Jayapura. Di tempat ini ditemukan bongkahan batu berlukis berbentuk binatang-binatang melata.

Sementara itu, peninggalan arkeologi dari zaman kolonial juga banyak ditemukan di beberapa daerah di Papua karena wilayah ini pernah diduduki bangsa Belanda sejak tahun 1900-an hingga pecah perang Pasifik di tahun 1940-an.

Situs zaman kolonial ini misalnya Situs Ifar Gunung, Situs Asei Pulau dan Situs Hirekombe di Kabupaten Jayapura.

Adapun peninggalan arkeologi yang berkaitan dengan sejarah masuknya agama Islam ke Papua, dibuktikan dengan ditemukannya Situs Makam Islam di Lapintal, Kabupaten Raja Ampat, Situs Islam di Pulau Nusmawan, Kabupaten Teluk Bintuni dan lain sebagainya.

"Potensi arkeologi ini merupakan kekayaan sejarah yang sangat bernilai, dan jika dikelola dengan baik bisa memberikan kontribusi bagi pembangunan, baik dari segi sosial budaya, pendidikan maupun ekonomi," ujar Tony.


Editor: bnj | Sumber : ANT

http://sains.kompas.com/read/2010/04/07/06421085/Papua.Miliki.Keragaman.Arkeologi

Dieng, Bulan Madu Menikmati Candi

Dieng, Bulan Madu Menikmati Candi
Senin, 28 Juli 2008 | 17:31 WIB

DIENG, MINGGU - Situs kompleks percandian Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Senin (28/7) ramai dikunjungi wisatawan nusantara dan mancanegara, menyusul selesai dipugarnya Candi Arjuna. Berbagai atraksi kesenian tradisional masyarakat setempat ditampilkan. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik yang datang untuk meresmikan Museum Kailasa dan Candi Arjuna setelah dipugar sejak 2006 lalu, menyatakan kekagumannya akan keindahan alam kawasan dataran tinggi Dieng yang berhawa sejuk.

"Kawasan wisata ini menarik untuk jadi wisata bulan madu, karena sepi dan dingin. Orang Jepang dan Korea senang tempat seperti ini untuk menikmati bulan madunya. Saya saja berpikir, kapan bisa bulan madu kedua di Dieng," katanya.

Dataran tinggi Dieng berada pada ketinggian 2.000 - 2,500 mdpl, terkenal karena tinggalan purbakala dan pemandangan alamnya. Sampai saat ini terdapat 22 prasasti berbahasa Jawa Kuno yang berisi gambaran Dieng sebagai pusat kegiatan religius. Dieng semula merupakan gunung berapi yang meletus dengan dahsyat, dan menyebabkan puncaknya hancur. Dataran terbentuk dari kawah gunung yang telah mati kemudian jadi danau dan dikeringkan untuk kegiatan agama Hindu.

Abad ke VIII sampai XII Masehi, dibangun candi-candi. Situs kompleks percandian Dieng seluas 900.000 meter persegi terdiri dari kompleks Candi Arjuna, Candi Dwarawati, Candi Gatot Kaca, dan Candi Bima. Kompleks Candi Arjuna terdiri dari Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra.

Jero Wacik menjelaskan, kawasan percandian Dieng dikembangkan atas perintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sebagai tempat tujuan wisata, bukan hanya kompleks percandian Dieng yang menarik untuk dinikmati, tetapi juga keindahan alam dan sejuknya hawa pegunungan, serta wisata alam dengan empat buah telaga.

"Sekarang dilengkapi dengan Museum Kailasa, yang memberikan informasi tentang kepurbakalaan di dataran tinggi Dieng. Di museum ada temuan-temuan lepas yang sangat bernilai, arca khas Dieng seperti arca Siwa Trisirah dan Siwanandisawahanamurti. Benda-benda purba itu bukan tidak ada makna, tapi punya filosofi dan pemahaman akan nilai luhur," paparnya.

Menurut Jero Wacik, pemahaman ini diharapkan dapat mengubah sikap masyarakat khususnya generasi muda dalam memandang arti pelestarian dan pemanfaatan benda cagar budaya, situs, dan kawasan. Juga bagi masyarakat sekitar Dieng agar dapat terlibat secara aktif dalam pelestarian dan pemanfaatan warisan budaya setempat.


Penulis: Yurnaldi

http://nasional.kompas.com/read/2008/07/28/17310346/Dieng..Bulan.Madu.Menikmati.Candi

Darah babi di Filter Rokok

Darah babi di Filter Rokok

Seorang peneliti di Australia melansir penelitian mengenai rokok yang diduga mengandung darah babi. Kandungan babi yang diharamkan umat Islam ini ditemukan di filter rokok.

Profesor di bidang Kesehatan Publik, Universitas Sydney, Simon Chapman, menunjuk pada riset terbaru yang mengidentifikasi 185 penggunaan hemoglobin atau bagian darah babi, termasuk dalam pembuatan filter rokok. Penemuan ini, kata Chapman kepada News.com.au, bisa berdampak pada kelompok Islam dan Yahudi.

“Komunitas Yahudi jelas akan menilai masalah ini sangat serius dan komunitas Islam akan menilainya sangat mengganggu,” kata Chapman, Rabu 31 Maret 2010.

Penemuan ini, kata Chapman, membuka bobrok industri rokok yang tidak diwajibkan mencantumkan komposisi dalam rokok. “Mereka mengatakan, “ini bisnis kami dan sebuah rahasia dagang”.”

Darah babi ini, kata Chapman, setidaknya ditemukan di satu mereka rokok dijual di Yunani. Darah babi dipastikan dipakai dalam pembuatan rokoknya.

Sebuah riset di Belanda menemukan darah babi ini dipakai untuk membuat filter lebih efektif menangkap kimia berbahaya sebelum asap masuk ke tenggorokan. Artinya, temuan ini jelas tak berlaku untuk rokok yang tidak menggunakan filter.(*)

  • Editor : Satwiko Rumekso
http://www.surya.co.id/2010/03/31/darah-babi-di-filter-rokok.html

Jumat, 02 April 2010

Bangun Jaringan Lewat Fotografi

Kamis, 01/04/2010 09:38 WIB
Photo Speak
Bangun Jaringan Lewat Fotografi
Ema Nur Arifah - detikBandung



Bandung - Selain sharing ilmu fotografi, Photo Speakmemiliki misi yang tak kalah penting yaitu membangun jaringan komunitas fotografi di Bandung. Dengan berkumpulnya komunitas fotografi, otomatis akan membuat para penggiat fotografi lebih mengenal komunitas di luar mereka.

"Kalau ada acara fotografi di kampus kan bisa saling menginformasikan sehingga yang datang menjadi banyak," tutur penggiat fotografi, Galih Sedayu, di garasi detikbandung, Jalan Lombok No.33, Rabu (31/3/2010).

Selain antar anggota komunitas, Photo Speak juga menjalin networking dengan memanfaatkan ruang-ruang publik. Setiap bulannya, tempat yang digunakan selalu berbeda, menjelajah ke galeri-galeri, atau tempat lainnya.

Dengan begitu diharapkan satu waktu akan ada kolaborasi antara para penggiat fotografi dengan tempat bersangkutan sehingga Kota Bandung tidak akan pernah sepi dari kreativitas.

Jaringan menurut Galih memberikan benefit jangka panjang dan merupakan investasi terbaik. "Bukan apa yang kita kuasai tapi siapa yang kita kenal," jelas Galih.

Salah satu bentuk perwujudan jaringan fotografi ini, adalah berkumpulnya komunitas fotografi untuk menyambut ulang tahun Bandung ke-200. Setidaknya, menurut Galih, dalam acara yang bertajuk 'Bandung 200 Years Photo Festival' ini sudah terjaring 50 komunitas fotografi di Bandung.

Dia melihat perkembangan fotografi di Bandung memang cukup tajam. Berbagai komunitas yang muncul juga beragam dari mulai komunitas kamera plastik, pocket sampai digital.

"Dari tahun 2004 sampai sekarang setidaknya ada sebanyak 5.000 penggiat fotografi di Bandung," tandas Galih.
(ema/bbn)

Jujur Merekam Peristiwa Sosial

Selasa, 30/03/2010 11:12 WIB
Forum Film Pelajar Bandung
Jujur Merekam Peristiwa Sosial
Ema Nur Arifah - detikBandung



Bandung - Idealisme komunitas indie senantiasa tercermin dari hasil karya mereka. Begitupun dengan Forum Film Pelajar Bandung (F2PB) yang lebih banyak mengangkat tema sosial untuk film-film yang mereka buat.

"F2PB selalu berusaha untuk jujur," demikian tutur Ridla An-Nuur Setiawan, ketua F2PB.

Jujur di sini, maksud Ridla, F2PB lebih banyak merekam peristiwa-peristiwa sosial di sekitar. Meski tidak selalu harus seperti itu tapi setidaknya setiap film yang dibuat sedikit menyinggung kritik sosial.

"Tergantung idenya tapi sedikitnya ada menyinggung kritik sosial," ujar sutradara dan aktor terbaik untuk film 'Ben' dalam Festival Film Brookey ini.

Film-film yang dibuat pun kebanyakan film-film berdurasi pendek. Sejak diluncurkan film panjang 'BEN' dan 'GUE', F2PB belum berniat untuk menggarap film panjang ketiganya.

Menurut Ridla, energi yang dihabiskan untuk membuat film panjang cukup besar. Tapi bukan berarti mengecilkan perjuangan penggarapan film pendek, hanya saja F2PB merasa masih harus belajar membuat film dari film pendek karena lebih bebas berkesperimen.

"Kita ternyata belum siap untuk bikin film panjang yang ke-3," aku Ridla. Menurutnya, ilmu F2PB masih harus terus diasah dan dengan membuat film pendek jadi salah satu cara untuk meng-up grade skill anggotanya sebelum membuat film panjang kembali.

Tahun ini, lanjut Ridla, F2PB juga tengah menyiapkan sebuah film pendek berjudul 'Penghulu' dan satu film pendek yang masih dalam tahap pra produksi. "Kalau untuk buat film panjang kita enggak tahu kapan," tandasnya.

(ema/avi)

Torehan Prestasi Forum Film Pelajar Bandung

Selasa, 30/03/2010 10:52 WIB
Torehan Prestasi Forum Film Pelajar Bandung
Ema Nur Arifah - detikBandung



Bandung - Nama Forum Film Pelajar Bandung (F2PB) mungkin sudah tidak asing di industri film indie. Komunitas yang berkibar lewat film 'Ben' ini berhasil menoreh berbagai prestasi.

Meski belum menginjak ranah industri film profesional, sebagai sineas yang mulai berkarya sejak masih berseragam putih abu, komunitas ini layak mendapat acungan jempol.

Berawal di tahun 2003. Seperti dituturkan Ketua F2PB Ridla An-Nuur Setiawan di bertemu tiga temannnya Yolan, Destri, dan Icah di Salman Filmmaker Club.

"Setahun kemudian kita lihat banyak teman seumuran kita yang juga suka film sampai akhirnya kita bikin komunitas film khusus anak SMA di Bandung," jelas Ridla yang dulu berasal dari SMA 4 Bandung.

Tepat di 17 Januari 2004, secara resmi F2PB terbentuk. Dengan modal promosi lewat poster-poster, para anggota perintis turun ke sekolah-sekolah untuk mensosialisasikan keberadaan F2PB.

"Alhasil antara tahun 2005-2006 anggota kita mencapai 150 orang," tuturnya.

Tahun 2006-2007, F2PB berhasil membuat film panjang berdurasi 60 menit dengan judul 'Ben' dan 'Gue'. Film perdana yang disutradarai dan diperankan Ridla sebagai aktor utama ini menarik perhatian publik.

Launching perdananya di Art Sinema tahun 2005 dihadiri oleh produser film Budiyati Abiyoga dan Dekan Sinematografi IKJ Gatot Perkasa. BEN juga terpilih jadi film pembuka dalam Festival film di Bandung, Malang dan Lampung di tahun 2005-2006. Selain itu pernah juga diikutsertakan dalam Festival Film Cannes di tahun 2006.

Lalu film Gue Vs Koruptor menjadi juara II dalam Lomba Film Pendek yang diselenggaraan oleh KPK tahun 2006. Selanjutnya film panjang ke-2 berhasil roadshow ke komunitas-komunitas film di 11 kota di Indonesia. Proses kreatif F2PB terus berjalan dengan membuat film-film pendek.

Selain membuat film berbagai kegiatan yang berkaitan dengan film juga digelar F2PB. Misalnya training produksi film pendek untuk SMA se-Bandung yang masih dilakukan sampai sekarang, workshop, pemutaran film, menghadiri berbagai festival film di Indonesia dan lain-lain.

Namun kematangan F2PB tidak berbanding lurus dengan jumlah anggota yang makin lama makin menyusut. "Dari seleksi alam anggota kini berjumlah 40 orang dengan jumlah yang aktif hanya 15 orang," tutur Ridla.

Sejak tahun 2007, F2PB memang sengaja tidak lagi turun ke SMA-SMA untuk merekrut anggota. Perekrutan dilakukan secara personal. "Kalau ada launching film baru kita sounding ke sekolah-sekolah," tutur mahasiswa Manajemen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini.

Meski promosi anggota tidak seterbuka dulu, F2PB masih membuka pintunya lebar-lebar bagi siapapun yang ingin belajar tentang film dan tidak ada batasan umur. Siapa tahu komunitas ini bisa jadi jembatan yang akan mengantarkan pada cita-cita yang lebih tinggi sebagai seorang sineas.

(ema/avi)