Tampilkan postingan dengan label Bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bandung. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Maret 2010

Jalur Khusus Sepeda di Bandung

Kamis, 18/03/2010 14:20 WIB
Jalur Khusus Sepeda di Bandung
Pemkot Harus Antisipasi Benturan Bikers dan Cyclist
Avitia Nurmatari - detikBandung



ilustrasi/detikbandung
Bandung - Ketua Bike To Work (BTW) Bandung Satiya Adi Wasana meminta Pemkot Bandung terlebih dahulu sosialisasikan jalur sepeda kepada pengguna sepeda motor atau bikers. Tujuannya nanti agar para bikers tidak menyerobot jalur khusus sepeda.

"Kalau cyclist (pesepeda-red) diserobot motor pasti ada saja sih, tapi harus ada sosialisasi juga oleh pemkot," ujar Satiya saat dihubungi detikbandung melalui ponselnya, Kamis (18/3/2010).

Menurut Satiya, dengan hanya membedakan warna aspal jalan dinilai cukup untuk membedakan antara jalur umum dengan jalur khusus sepeda.

"Yang penting ada garisnya jelas, berharap juga ada separatornya. Sehingga tidak bercampur dengan kendaraan bermotor. Tapi dengan warna saja juga sudah cukup sih," jelasnya.

Satiya berharap, pemkot dapat merealisasikan jalur sepeda ini secara serius dan bisa dimanfaatkan oleh pesepeda.

"Jangan sampai kayak yang udah ada sekarang. Yang di Cikapayang dan depan RS Borromeus, itu menyatu dengan trotoar, jadi tidak nyaman. Trotoarnya juga dipakai berdagang," terangnya.

(avi/bbn)

Rabu, 25 November 2009

Meneropong Bandung 90 Tahun yang Lalu

Kamis, 23/04/2009 08:19 WIB
Meneropong Bandung 90 Tahun yang Lalu
Ema Nur Arifah - detikBandung




Bandung
- Memasuki hari ke-5 peringatan Konferensi Asia Afrika, beberapa anak berseragam putih biru tampak antusias duduk di atas karpet merah yang digelar di ruang Museum KAA. Mereka tidak duduk di kursi yang sebelumnya sudah penuh oleh pengunjung.

Ghifari (11) misalnya, siswa SMP 13 ini bahkan baru datang ke museum KAA. Kedatangan Ghifari kali bersama kawan-kawannya untuk melihat pemutaran film dokumenter Bandung Tempo Doeloe.

"Saya senang bisa datang dan tahu tentang sejarah Bandung," ujar Ghifari bersemangat.

Memang tak hanya Ghifari, sekitar ratusan orang lainnya sengaja datang untuk melihat bagaimana kondisi Bandung di masa lalu. Dipandu pramuwisata senior sekaligus pemerhati budaya dan sejarah, Felix Feistma, acara yang berdurasi dua jam tersebut menyisakan berbagai pertanyaan bagi peserta diskusi.

"Tak akan habis waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka," ujar Felix.

Felix mengajak peserta untuk melihat bagaimana Bandung 90 tahun yang lalu. Menembus waktu, meneropong setiap ruang di Kota Bandung saat itu. Dalam gambar hitam putih tersebut diperlihatkan jalan-jalan, bangunan-bangunan kehidupan sosial, juga kondisi perpolitikan yang ada di Kota Bandung termasuk peristiwa Bandung Lautan Api.

"Bandung pernah memiliki golden era pada masa Hindia Belanda," tutur Felix membuka diskusi.

Bangunan-bangunannya yang indah dengan arsitektur menawan, kondisi jalan yang masih rimbun dan teduh, serta serpihan-serpihan gaya hidup orang Belanda di masa itu.

"Bandung adalah kota yang cantik," ujar Felix. Hal itulah yang mungkin menjadi alasan dipilihnya Bandung di tahun 1955 sebagai kota penyelenggara Konperensi Asia Afrika. Padahal ucap Felix, saat itu situasi keamanan di Bandung pun sedang tidak dalam keadaan kondusif. Tapi dengan sukses KAA bisa dilaksanakan.

"Saat itulah tepatnya Bandung menjadi ibukota dua benua Asia dan Afrika," jelas Felix.

Diungkapkan Felix, mungkin saja apa yang ada dalam golden era tersebut satu waktu sudah tidak ada lagi. Sebagai dampak dari adanya pembangunan-pembangunan sekarang yang menurut Felix tidak lagi menghargai sebuah sejarah.

"Bukan saya membela pemerintah Hindia Belanda. Tapi kita harus melihat di balik pembuatan bangunan-bangunan tersebut ada tangan-tangan orang pribumi yang bekerja. Bayangkan orang-orang kita sudah bisa membangun seindah itu," ujarnya.

Felix berharap dengan acara ini generasi muda menjadi lebih tahu tentang kondisi Bandung jaman duku sehingga mereka tidak kehilangan cerita.

Namun di mata Felix, meski golden era sudah terlewati tapi Bandung tetap memiliki daya tarik. "Bandung memiliki aura," ucapnya.
(ema/ern)

De Vries yang Telantar

Rabu, 29/04/2009 10:11 WIB
De Vries yang Telantar
Ema Nur Arifah - detikBandung




Bandung
- Satu lagi gedung tua peninggalan Belanda yang tak difungsikan. Terbengkalai. Padahal berada di jalur protokol antara mulut Jalan Braga dan Jalan Asia Afrika. Gedung bermenara ini memiliki arsitektur romantik klasik dan disebut-sebut sebagai cikal bakal keramaian di Jalan Braga.

Disebut Gedung de Vries atau Toko Padang. Beberapa literatur menyebutkan, gedung ini sebagai tempat berkumpulnya orang-orang Belanda sambil ngopi di tahun 1879. Perkumpulan tersebut kemudian disebut Societiet Concordia. Sekitar tahun 1985, tempat berkumpul Society Concordia pindah ke gedung di seberangnya yaitu gedung Concordia yang kini disebut sebagai Gedung Merdeka.

De Vries pun difungsikan sebagai toko kelontong dan merupakan pusat perbelanjaan pertama di Bandung. Konon para petani kayaparahyangan (preanger planters) selalu berbelanja ke tempat ini. Keramaian De Vries pun mempengaruhi kawasan sekitarnya yaitu Jalan Braga. Dari sanalah Jalan Braga sebagai salah satu kawasan elit di Bandung dimulai.

Bagaimana keadaan De Vries sekarang? Kosong tak berpenghuni. Kepemilikan gedung diduga berada di tangan Bank NISP. Untuk menuju bagian belakang gedung pun diakses melalui jalan belakang kantor Bank OCBC NISP yang berdampingan dengan gedung De Vries.

Seorang tukang parkir di kawasan tersebut Abud menyatakan dirinya pernah bekerja sebagai karyawan di Wismakarya yang ada di gedung De Vries. Saat dia bekerja di tahun 1967 De Vries dibagi beberapa bagian, satu bagian untuk studio foto, toko meubel ada juga toko Wismakarya. Terakhir toko Wismakarya difungsikan sebagai diskotik.

Menurut Abud, sekitar tahun 1980-an gedung mulai tidak difungsikan dan berlangsung sampai sekarang. Halaman belakang gedung pun ditutup rapat dengan benteng seng dengan tinggi sekitar tiga meter. Gedung pun tertutup karena beberapa pintunya dikunci gembok.

Bagian depan gedung masih tampak indah walaupun salah satu kaca jendela menara bolong. Tembok belakang gedung tampak tak terurus karena catnya yang sudah lapuk. Atap bagian belakang terlihat sudah ada yang bolong-bolong.

Sangat disayangkan gedung berusia lebih dari seabad ini tidak difungsikan dan kurang terawat. Seperti dinyatakan seorang warga sekitar, Asep (56) yang menyayangkan gedung bersejarah tersebut terlantar.

"Ini kan aset buat Kota Bandung," ujar Asep. Asep sendiri tidak tahu menahu siapa pihak yang berwenang dalam pengelolaan De Vries namun dia berharap pemerintah memperhatikan.
(ema/ern)

Jejak Masa Lalu di Jalan Citarum

Rabu, 13/05/2009 07:28 WIB
Jejak Masa Lalu di Jalan Citarum
Ema Nur Arifah - detikBandung




Bandung
- Terletak di Jalan Citarum No 23, bangunan yang ditempati SMA 20 ini termasuk bangunan cagar budaya yang masuk dalam kategori konservasi golongan A. Sejak dibangun tahun 1930, bangunan yang dibangun di atas lahan seluas 6.205,1 meter persegi ini sudah difungsikan sebagai sekolah.

Menurut Wakasek Humas SMA 20 Agus Hamdan, bangunan dengan ciri khas art deco ini sebelum ditempati SMA 20 digunakan untuk SPG Negeri 2. Namun ketika SPG dihapuskan, maka SMA 20 menempati bangunan tersebut pada tahun 1986.

Agus memaparkan sebenarnya SMA 20 adalah Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) IKIP Bandung yang sudah berdiri tahun 1970. Namun ketika tahun 1986 keluar peraturan perguruan tinggi tidak diperbolehkan membuat sekolah, PPSP pun dihapuskan lalu diubahlah menjadi SMA 20.

SMA 20 berada di kawasan yang dilindungi karena posisinya tidak jauh dari Gedung Sate. Bangunan aslinya berbentuk letter U dengan jumlah 14 ruangan. Dengan ciri khas bangunan atap yang mirip dengan Gedung Sate. Tembok-tembok kokoh dan langit-langit yang tinggi tetap menjadi ciri khas gaya bangunan Belanda.

Tahun 2000 pihak sekolah mendirikan bangunan baru di tengah-tengah bangunan lama. Sehingga dari luar yang terlihat masih arsitektur bangunan lama. "Kita tidak mengubah bentuk bangunan lama tapi menyesuaikan dengan bangunan lama walaupun dari sisi arsitektur berbeda," ujar Agus.

Dari sisi pemeliharaan, menurut Agus baik bangunan lama maupun bangunan baru tidak jauh berbeda. "Sebagai bangunan cagar budaya kita berupaya untuk melestarikan kalaupun pemeliharaan yang kita lakukan paling perbaikan-perbaikan ringan," tutur Agus.

Meski tidak merasa kesulitan dalam pemeliharaannya, menurut Agus, untuk perawatan bangunan cagar budaya perlu alokasi dana khusus, tidak hanya mengandalkan dana pemeliharaan sekolah.

"Satu sisi dana khusus itu perlu untuk pemeliharaan," tuturnya.

Dengan alasan, bangunan cagar budaya memiliki struktur bangunan yang kemungkinan berbeda dengan struktur bangunan baru, sehingga mungkin saja tidak diketahui oleh pemilik bangunan tersebut.

"Kalau ingin tetap melestarikan bangunan cagar budaya diperlukan pemeliharaan khusus," paparnya.

(ema/ern)

Masjid Agung Tak Lagi Seperti Dulu

Jumat, 28/08/2009 13:49 WIB
Masjid Agung Tak Lagi Seperti Dulu
Pradipta Nugrahanto - detikBandung




Bandung
- Sebagai masjid tertua di Bandung, Masjid Agung Bandung yang telah berdiri kokoh sejak tahun 1810 ini tentu menjadi salah satu ikon sejarah kota Bandung. Namun sayang, seiring perubahan zaman banyak ornamen yang hilang dari bangunan bersejarah ini.

Ketua Panitia Ramadan Masjid Agung Bandung, Heri Indracahyana menuturkan dulu Masjid Agung Bandung memiliki areal yang sangat luas, hampir sampai Jalan Otista.

"Kalau diukur, luasnya kira-kira sampai dua hektaran. Tapi karena satu dan lain hal akhirnya terus menyusut hingga kondisi yang sekarang, hanya sekitar satu hektaran saja," tutur Heri.

Menurut Heri, masjid yang berdaya tampung kurang lebih 15 ribu jamaah ini telah mengalami lima kali renovasi. "Renovasi pertama sudah dilakukan sejak 1817, lalu 1950, 1970, 1980 hingga terakhir tahun 2000," ujar Heri.

Masjid Agung Bandung sempat dikenal dengan nama Bale Nyungcungnya. Atap masjid ini sempat dibuat mengerucut menjulang ke langit, sama dengan dua menara kembarnya yang kini ada di kiri dan kanan masjid.

Namun di renovasi terakhir, Bale Nyungcung diubah menjadi kubah. Tidak kalah unik dengan Bale Nyungcung, kubah ini diberi lampu disetiap rangka besinya. Sehingga di malam hari, Masjid Agung mudah dikenali.

Tak hanya bangunan, interior Masjid Agung pun telah mengalami renovasi sebanyak empat kali. "Konon yang asli tinggal yang sebelah kanan. Makanya orang-orang tua hingga calon pejabat banyak yang memilih berdo'a di sebelah kanan masjid," ujar Heri.

Selain interior, originalitas Masjid Agung Bandung semakin pudar dengan hilangnya bedug asli masjid tersebut.

"Ini yang menyedihkan, di kota lain seperti Semarang atau Surabaya bedugnya masih asli dan dijaga. Nah di Bandung, raib entah kemana. Dulu saya dengar dibawa ke Museum Sri Baduga, tapi nyatanya disana pun tidak ditemukan," tutur Heri.

Heri menambahkan, dahulu pada saat Bandung menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika, sejumlah kepala negara yang muslim sempat Shalat Jum'at di Masjid Agung.

"Sayang dokumentasinya juga tidak disimpan dengan baik, jadinya saat ini sudah hilang entah kemana," ujarnya.

Selain hilangnya ornamen-ornamen asli, Masjid Agung Bandung kini dikotori oleh banyaknya pedagang dan pengemis.

"Kalau pedagang sebenarnya jadi penarik minat warga untuk ngabuburit, sekaligus jadi penggerak ekonomi masyarakat juga. Hanya saja penataannya yang kurang
baik," tutur Heri.

Meski telah bertransformasi, hingga kini Mesjid Agung Bandung tetap menjadi ikon kebanggaan kota Bandung. Terbukti animo masyarakat untuk berkunjung ke sana terus bertambah dari tahun ke tahun.(dip/ema)

Sabtu, 14 November 2009

Ulang Tahun Thumbers

Senin, 15/06/2009 08:23 WIB
Ulang Tahun Thumbers, Berbagi Darah dan Hadiah
Andrian Fauzi - detikBandung



Bandung
- Meriah dan penuh dengan keceriaan. Itu yang tergambar dalam acara peringatan ulang tahun Thumbers (komunitas Blackberry Bandung) yang pertama. Tak hanya berbagi hadiah, member Thumbers pun berbagi darah.

"Berbagi bersama, memudahkan hidup sesama. Seperti visi dan misi kita yaitu hidup lebih mudah dengan adanya Blackberry," ujar Henry Syarifudin, pendiri
Thumbers kepada detikbandung disela-sela acara, Minggu (14/6/2009) petang.

Kegiatan yang diberi nama 1st Anniversary Thumbers Blackberry Community itu, digelar selama 2 hari. Hari pertama digelar aksi donor darah di kantor pusat PMI Kota Bandung. Dan hari kedua adalah puncak acara yang digelar di Grand Ballroom The Ardjuna Boutique Hotel and Spa di Jalan Ciumbuleuit.

Acara yang digelar sejak pukul 10.00 WIB ini juga berisi presentasi dari Indosat dan XL tentang layanan Blackberry. Tidak hanya itu, ada juga penampilan dari magician, dancer serta band-band ternama seperti Colafloat, Saykoji, Dygta. Saykoji yang baru saja melepas singlenya yang berjudul 'online' mengaku
terinspirasi dari aktifitas Blackberry mania.

Banyak hadiah dibagikan diacara tersebut. Mulai dari voucher menginap di Hotel Ardjuna hingga silicon case.Dan dipuncak acara, diluncurkan membership card
Thumbers. Kartu tersebut berlaku layaknya kartu diskon bagi anggota Thumbers.

"Dari member, oleh member dan untuk member. Acara ini acara bersama," ungkap HS, panggilan akrabnya menutup obrolan.

(afz/ern)

Bandung Hobbies & Toys Fair,Para Hobbies dan Pencari Mainan

Sabtu, 20/06/2009 09:53 WIB
Bandung Hobbies & Toys Fair
Surga Para Hobbies dan Pencari Mainan
Andrian Fauzi - detikBandung



Bandung - Hobbies and Toys Fair yang digelar di BeMall dari tanggal 19-21 Juni 2009 bagaikan surga para hobbies dan pencari mainan. Sebanyak 160 stan mulai dari mainan, permainan, kostum hingga komunitas-komunitas saling menampilkan karya terbaiknya.

"Awalnya komunitas-komunitas ini sering melakukan pameran. Namun sendiri-sendiri. Nah, mereka ingin pameran sama-sama. Ingin kenalkan kalo hobi mereka bisa dinikmati orang lain," ujar Jessica Wijaya, Promotion and Marketing Mozaic Production, penyelenggara Bandung Hobbies and Toys.

Namun pameran kali ini berbeda dengan tahun lalu yang digelar di tempat yang sama. Dalam pameran yang diikuti oleh 160 peserta ini, para pengunjung diharuskan membeli tiket masuk seharga Rp 5 ribu.

"Kami sengaja tidak menggratiskan. Karena pengalaman tahun kemaren, banyak peserta yang komplain karena banyak barang-barang mereka yang hilang. Jadi kami harus lebih selektif. Sehingga yang datang ke sini ini benar-benar yang ingin mencari dan memuaskan hobi mereka," ungkap wanita berkulit putih ini.

Pantauan detikbandung, banyak petugas keamanan yang selalu berkeliling dan berjaga di beberapa tempat. Begitu dibuka, para pengunjung yang sejak pagi menunggu langsung menyerbu masuk ke Lower Ground Floor Be Mall.

"Hari pertama saja sudah seperti ini. Biasanya hari Sabtu dan Minggu akan membludak. Tahun kemarin jumlah pengunjungnya mencapai 10-15 ribu dan perputaran uangnya mencapai Rp 2 milar sehari," jelasnya.

Melihat kesuksesan tahun lalu, tak heran Jessica juga mematok target dalam kegiatan kali ini. "Targetnya 1 stand 100 juta transaksi omset dan minimal 10 ribu pengunjung tiap hari," tegasnya.

Beberapa komunitas yang turut meramaikan pameran ini antara lain Bandung Diecast Collector, Hobiland Remote Control, Indoflyer, Airsoft Gun, Micro Trains, Klub Lego Indonesia, Klub Beta UFO, serta Vandaria Wars.

Tidak hanya memamerkan hobi dan mainan, dalam gelaran kali ini juga diadakan beberapa event dan kompetisi seperti Toys Safari, Hobiland Drift Car Competition, Hobiland Rock Crawling Competition, Tamiya Building Mini4WD Competition, Tamiya “Mini4WD Reborn” Competition, Vandaria Wars National Championship, Hobbyline Model Kit Workshop, Manga Drawing Competition, Warhammer Workshop, Mawar Music "Anime and Movies" Music Performance, Forplay-Sonic PES09 Competition, Designer Gallery dan Robotics Demo.

"Selain pameran dan kompetisi, kami juga punya program yang hanya ada tahun ini yakni TOys Safari. Acara ini berisi talkwshow dan kami berkerjasama dengan Universitas Kristen Maranatha Fakultas Desain dan ITHB," pungkasnya.

Bandung dalam Pusaran Yo-yo

Senin, 27/07/2009 09:02 WIB
Bandung dalam Pusaran Yo-yo
Pradipta Nugrahanto - detikBandung




Bandung
- Siapa tidak kenal yo-yo? Mainan bulat dengan tali yang dililitkan itu telah mendunia. Sebagian orang malah memainkan yo-yo secara serius, seperti komunitas Indie Yo yang eksis di Bandung.

Bagus Oka (21) salah satu pendiri Indie Yo menuturkan kepada detikbandung, ia dan teman-temannya ingin lebih memasyarakatkan yo-yo pada publik Bandung dan Indonesia umumnya.

"Tadinya saya dan teman-teman juga belum terorganisir main yo-yo, cuma main saja, tapi lama-lama kepikiran juga untuk bikin organisasi yang bisa mewadahi penggemar yo-yo di Bandung," tutur Oka.

Sebenarnya Indonesia sudah memiliki persatuan Yo-Yo Indonesia yang dibuat oleh Oke Rosgana (Bapak Yo-Yo Indonesia,red). Namun Oka merasa Yo-Yo Indonesia lebih identik ke Jakarta.

"Tentu sebagai organisasi kita berada di bawah Yo-Yo Indonesia, namun saya rasa ada baiknya tiap daerah punya komunitas yo-yo sendiri. Kita awali dari Bandung dulu lah," seloroh Oka.

Akhirnya di 9 Februari 2009, Oka dan teman-teman penggemar yo-yo Bandung meresmikan komunitas yo-yo Bandung dengan nama Indie-Yo.

"Kita sudah diskusi dengan Kang Oke, dan dia mendukung sekali," sambung Oka.

Kini, Indie Yo yang memiliki basecamp Jl Bukit Indah 20 Cimbuleuit dan Nusa Sari Raya 11, Taman Citeureup Cimahi ini memiliki kegiatan gathering di PVJ dan Ciwalk setiap hari Minggu sore.

"Gak mesti latihan pas ngumpul, bisa jadi bagi trik atau nonton video yo-yo bareng. Kita juga bikin merchandise kasing yo-yo dan kaos. Ya sambil bisnis kecil-kecilan juga," tuturnya.

Selain kegiatan reguler, Indie Yo juga memiliki program coaching clinic. "Buat siapa aja yang mau minta diajarin main yo-yo dateng aja ke basecamp kita, kita terbuka kok," ujar Oka lagi.

Komunitas Film Indie yang Eksis di TV

Kamis, 20/08/2009 13:29 WIB
Rolling Action
Komunitas Film Indie yang Eksis di TV
Pradipta Nugrahanto - detikBandung




Bandung
- Kecintaan sejumlah anak muda Bandung terhadap film indie mendorong mereka yang berada dibawah payung komunitas Rolling Action. Mereka membuat suatu acara TV mengenai film independen dengan konteks yang sangat independen.

"Awalnya Rolling Action adalah sebuah komunitas pecinta film indie yang mewadahi berbagai komunitas film di Bandung. Namun lama-kelamaan kita merasa perlu adanya
suatu media yang bisa membuat masyarakat semakin terbuka pada film indie," ujar Ery Mochtar, General Manager Rolling Action saat ditemui dalam Ganesha Film Festival beberapa waktu lalu.

Beruntung sejak berdiri di tahun 2005, sebuah stasiun televisi lokal Bandung memberikan kesempatan pada mereka untuk membuat program yang menayangkan film-film indie.

"Namun jangan disangka kami masuk media dan menjadi industri, kapasitas kami tetap sebagai komunitas independen yang mewadahi pecinta musik independen,"
sambung Rengga Indrayana, Director Rolling Action.

Sebagai bukti keeksisan mereka menjaga independensi, 15 anggota aktif Rolling Action tetap menggarap siaran TV yang diputar seminggu sekali itu selama tiga tahun tanpa adanya kucuran biaya dari pihak-pihak manapun.

"Kami terus menampung film-film indie baru yang lebih sering sebut sebagai film amatir. Soalnya sering banyak pertikaian soal definisi film indie. Kalau film amatir lebih jelas, secara kualitas dan proses memang dibuat oleh mereka-mereka yang baru masuk ke dunia perfilman," timpal Ery lagi.

Terkait dipilihnya televisi sebagai media sosialisasi film indie, Ery cs memiliki alasan tersendiri.

"Sebenarnya ada internet seperti Broadcast Yourself, U TV dan banyak lagi, sebenarnya bisa saja film indie buatan anak negeri disalurkan lewat media-media itu. Tapi setelah kami pikir lagi, tidak semua orang terlebih di Indonesia memiliki koneksi internet yang baik, di Bandung sekalipun. Beda dengan TV yang bisa ditonton beramai-ramai dan hampir ada disetiap rumah," tutur Ery.

Karena bersifat independen dan tidak mengejar elemen komersil, Rolling Action pun kerap mengalami kendala dalam membuat acara yang tiap minggu tayang,

"Acaranya harus tayang tiap minggu, dan kita harus jalan dengan modal sendiri. Sampai saat ini dari mulai pencarian tempat untuk take shoot, kamera, lighting
hingga editing dan segala macam urusannya kita mencari sendiri. Tapi karena semangat independensi itu kita bisa terus berjalan. Kalaupun ada pemasukan baru dari komunitas film seperti iklan Ganfest dan semacamnya," seloroh Ery.

Kedepan, Ery cs berencana untuk tidak hanya berkutat di TV lokal Bandung saja, namun juga nasional.

"Untuk sementara dari Jogja dan Jakarta sudah ada yang minta, namun kita sedang mengupayakan bagaimana caranya agar esensi independensinya tidak hilang. Sementara paling kita upayakan dengan take disini dan dikirim masternya ke dua kota tersebut," tutur Ery dan Rengga kompak.(dip/mei)

Komunitas Reptil Bandung Mengajak Lebih Dekat dengan Reptil

Kamis, 22/10/2009 12:22 WIB
Komunitas Reptil Bandung
Mengajak Lebih Dekat dengan Reptil
Pradipta Nugrahanto - detikBandung




Bandung
- Mendengar kata reptil bisa jadi yang ada di bayangan anda adalah hewan berbisa dengan wujud yang mengerikan. Namun bagi para penggemar reptil yang tergabung dalam Komunitas Reptil Bandung (KRB), reptil tak ubahnya seperti peliharaan-peliharaan lain.

"Kita ingin meluruskan pendapat publik yang masih kerap beranggapan reptil adalah hewan yang menyeramkan dan pemeliharanya kerap dinilai aneh. Padahal reptil juga hewan yang bisa dijadikan peliharaan," ujar Adi salah satu anggota Komunitas Reptil Bandung.

Sejak berdiri tahun 2008 lalu, anggota KRB telah tak kurang dari seratusan anggota dengan berbagai koleksi reptilnya.

"Kita biasa ngumpul di Cihampelas Point setiap Jumat sore. Di sana kita bertukar informasi soal reptil sebanyak-banyakanya. Seperti informasi pakan, penyakit hingga jual beli koleksi" tutur Adi.

Beberapa koleksi yang dimiliki KRB adalah boa phyton Afrika, pantoa, ular sanca bodo, boa Columbia hingga biawak sarwana.

"Rata-rata yang kami miliki adalah ular, biawak dan juga kura-kura," tambah Adi.

Adi dan anggota komunitas KRB mengaku biasa berburu hewan-hewan itu dari searching di Internet dan menghubungi toko reptil lokal.

"Seringnya lewat perantara, tapi kadang juga dapat dari iklan di Internet," imbuh Adi.

Harga yang dipatok untuk satu reptil cukup bervariasi. Mulai dari Rp 50 ribuan hingga puluhan juta. "Penilaiannya biasanya diukur berdasarkan asal ditemukan dan tampilan si reptil itu sendiri," ujar
Adi.

Menyoal legalitas reptil-reptil yang dipelihara, Adi menuturkan bahwa komunitasnya memelihara reptil-reptil yang legal.

"Secara keseluruhan legal. Tidak ada yang diselundupkan. Soalnya reptil yang dipelihara didapat dari penangkaran, bukan dari alam bebas," tukas Adi.

KRB juga memiliki agenda rutin yang cukup positif. Yaitu sosialisasi reptil ke sekolah-sekolah. "Kita secara periodik datang ke sekolah-sekolah di Bandung sembari membawa sebagian koleksi reptil kita.
Di sana, kami mengajarkan bagaimana agar tidak takut dengan reptil, cara memegang, cara memberi makan hingga membedakan reptil yang berbahaya atau tidak kita menginformasikan," tutur Adi.

Adi mewakili teman-teman KRB kerap mengatakan jika memelihara Reptil tak ubahnya seperti memelihara kucing atau anjing.

"Sama saja, kalau kita mengurus dengan baik, merekapun tidak akan menyerang kita," ujar Adi.

Bagaimana, anda berminat?(dip/ema)

YES Club Bandung Jadilah Pecipta Lapangan Kerja

Sabtu, 14/11/2009 15:38 WIB
YES Club Bandung
Jadilah Pecipta Lapangan Kerja
Pradipta Nugrahanto - detikBandung




Bandung
- Kebanyakan anak muda kota besar seperti Bandung, di era modern ini mulai menggemari wirausaha sebagai salah satu pilihan karier mereka. Maka itu, perlu wadah yang diharapkan bisa mendukung mereka yang ingin meniti karier di bidang enterpreneur.

Seperti dituturkan Denny Willy sebagai Ketua Yayasan Apikayu yang juga salah satu bagian dari Young Enterpreneuers Start Up (YES) ketika ditemui wartawan di sela-sela Launching YES Club Bandung di Common Room, Jalan Kyai Gede Utama No 8, Sabtu (14/11/2009).

"Sekarang mindsetnya harus digeser. Dari pekerja, menjadi pecipta lapangan kerja. Terlebih untuk mereka di usia 18 hingga 35 tahun," jelasnya.

Untuk mengarahkan generasi muda Bandung dan Indonesia umumnya menjadi enterpreneur-enterpreneur muda baru, maka dibentuklah YES Bandung.

"YES sendiri sudah berjalan sejak 2003 di Jakarta. Awalnya bertujuan memberi kemudahan akses kepada enterpreneur muda untuk mendapatkan modal," tutur Denny.

Seiring perkembangannya, YES mulai berkembang menjadi lebih dari sekadar pembuka jalan mendapatkan modal secara mudah. YES pun mulai mengarah ke coaching profesional enterpreneur ke enterpreneur pemula.

"Kita ingin transfer ilmu dari mereka yang sudah lama bergelut dibidang enterpreneur dan mereka yang baru meniti langkah dibidang ini. Dan perlu ditegaskan, mentor-mentor itu bekerja secara sukarela," ujar Deny.

Di Bandung, YES bekerjasama dengan Indonesia Business Links, Yayasan Apikayu dan Common Rooms.

"YES bersifat sukarela, makanya kami menggandeng lembaga-lembaga yang sifatnya sukarela juga. Untuk di Bandung, kami menggandeng Common Room," terang Deny.

Deny menambahkan, saat ini model usaha yang sedang berkembang di Bandung adalah kuliner dan distro.

"Dua segmen bisnis itu sedang begitu naik daun di kalangan anak muda Bandung. Lewat YES ini, kami mencoba mengarahkan enterpreneur-enterpreneur muda untuk bisa membuka mata pada bidang-bidang lain," ujar Deny.

Pada saat launching, tak kurang dari 40 calon enterpreneur muda bergabung dengan YES Bandung. "Ini indikasi positif. Artinya minat kaum muda ke dunia enterpreneur sudah semakin terbuka," tandas Deny.
(dip/bbn)

Selasa, 27 Oktober 2009

Pemburu UFO Indonesia Berkumpul di Bandung

Jumat, 04/04/2008 19:22 WIB
Juni 2008, Pemburu UFO Indonesia Berkumpul di Bandung
Baban Gandapurnama - detikBandung



Bandung
- Ternyata masalah UFO menarik perhatian masyarakat seluruh Indonesia. Pengamat astronomi, Dedy Suardi mengemukakan Juni 2008 ini pemburu UFO dari seluruh Indonesia akan berkumpul di Bandung.

Berkumpulnya para pemburu ini terkait dengan prediksi Dedy bahwa Juni sampai Agustus 2008 penampakan benda asing akan semakin sering. Pengamat luar angkasa dekaligus penulis buku Tafakur di Galaksi Luhur, Dedy Suardi mengajak siapa saja yang penasaran melihat benda asing tersebut untuk datang ke rumahnya di Ciburial.

"Juni rencananya UFO hunter sari Yogya akan datang ke rumah saya," ungkap Dedy ditemui dikediamannya di Ciburial, Jumat (4/4/2008).

Dirinya sangat percaya dengan UFO walaupun dirinya mengaku belum bertemu langsung. Namun dia memastikan suatu saat hal itu bisa terjadi dan dirinya akan mengabadikan dengan kamera dan handycam.

Dedy sangat berharap obsesinya untuk mangabadikan UFO suatu saat akan terwujud. Dia hanya menunggu makhluk tersebut datang.

"Saya akan merasa puas kalau ketemu makhluk asing ini yang kata orang-orang banyak bilang," ungkapnya.

Ketika ditanya apakah benda asing tersebut setiap harinya ada Dedy menyebutkan hal itu ada. Namun keberadaannya sulit ditemui apalagi jika ditunggu dengan sengaja.

"Bisa juga karena feeling, kalau feeling akan muncul maka suka ada yang muncul, namun cepat juga hilangnya," jelasnya.

Menurut Dedy, bentuk benda asing yang sering dilihatnya menyerupai cerutu, mangkok atau berbentuk pipih. Dari benda tersebut keluar cahaya putih atau warna oranye.

Berdasarkan pengamatannya, benda-benda melintas secara horizontal. Menurutnya, sangat tidak mungkin kalau benda tersebut adalah pesawat domestik karena benda tersebut menukik dengan cepat ke arah kanan mapun kiri.

"Ada yang berjalan lurus kemudian berhenti dan lurus lagi. Ada juga yang jalan cepat menukik ke kanan atau ke kiri," papar Dedy.
(ema/twi)

Sabtu, 17 Oktober 2009

Helarfest 2009, Pesta Kreatif Warga Bandung

Helarfest 2009, Pesta Kreatif Warga Bandung
    JUMAT, 16 OKTOBER 2009 | 20:47 WIB

    BANDUNG, KOMPAS.com--Helar Festival (Helarfest) akan kembali dimulai, Sabtu (17/10). Perhelatan kreatif ini tidak hanya menjadi ajang pesta warga, khususnya komunitas kreatif. Melainkan, juga pertaruhan reputasi Bandung sebagai kota kreatif.

    Helarfest 2009 yang akan kick off hari ini menampilkan 64 kegiatan ( event) hingga Desember 2009. Tidak tanggung-tanggung, komunitas yang meramaikan event ini mencapai 30 buah. Dibandingkan event serupa tahun sebelumnya, kuantitas kegiatan dan partisipasi peserta melonjak dua kali lipat.

    Saya berani katakan, festival semacam ini adalah yang terbesar di Asia. Setidaknya, dalam hal kuantitas, tutur Ketua Bandung Creative City Forum (BCCF) Ridwan Kamil di sela-sela jumpa pers kegiatan Helarfest, Jumat (16/10) di RM Bumbu Desa.

    Bandung, melalui Helarfest yang dirintis tahun 2008 lalu oleh BCCF, telah menjadi rujukan bagi kota-kota dunia di Asia macam Filipina dan Taiwan di dalam menyelenggarakan festival serupa.

    Mereka belajar dari kita bagaimana mengorganisasikan komunitas dan potensi demikian banyak, tutur arsitek yang kerap diundang The British Council ke berbagai negara untuk membagi pengalaman mengorganisasi komunitas kreatif ini.

    Melalui Helarfest ini pula, oleh The British Council, Bandung mendapat predikat sebagai salah satu kota kreatif bertaraf dunia. Diharapkan, dengan ajang Helarfest, kota kita ini bisa lebih dikenal di dunia. Membuat orang-orang dari luar tertarik berkunjung ke Bandung, tutur Sekretaris Daerah Kota Bandung Edi Siswadi.

    Bandung memang memiliki potensi yang luar biasa besar untuk tumbuh dan berkembang berbasiskan industri kreatif. Merujuk kepada pengalaman suksesnya Silicon Valley di San Jose, Florida, AS sebagai salah satu rujukan kota kreatif dunia, Bandung memiliki kemiripan meskipun di dalam skala berbeda.

    Kemiripan itu adalah terkait rumusan Three T (Tiga T) yaitu talenta, teknologi dan toleransi. Di Indonesia pun, sebenarnya kita memiliki ini. Terutama di koridor Bandung-Cilegon, tutur Emil kemudian.

    Namun, kunci yang menentukan mengapa baru Bandung-kota di Indonesia, yang bisa melakukan helaran kreatif terbesar di Asia ini tidak lain adalah karena kekompakan, kolaborasi dan solidaritas pelaku serta komunitas kreatif di kota ini.

    Pengorbanan komunitas

    Tahun 2009, lebih banyak lagi komunitas yang terlibat langsung. Beberapa di antaranya mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung dan Komunitas Fotografi Bandung. Tidak ingin ketinggalan, kelompok musisi underground , guru hingga biker juga turut meramaikan acara.

    Menurut Fiki Satari, Koordinator Program BCCF, keberhasilan diadakannya Helarfest 2009 tidak terlepas dari pengorbanan para pelakunya demi tujuan bersama, yaitu membangun Bandung sebagai kota kreatif.

    Pengorbanan ini terlihat dari fakta bahwa di Helarfest 2008 lalu, panitia ternyata merugi hingga ratus an juta rupiah. Kegiatan Helarfest sebetulnya bukan bertujuan ekonomi. Melainkan, lebih untuk menguji kebersamaan serta mengajak masyarakat untuk membangun kreativitas berdasarkan kolaborasi, tutur Emil kemudian.

    Ia percaya, kreativitas tidak hanya dimiliki oleh kaum intelektual. Melainkan, juga para ibu rumah tangga, bahkan tukang becak sekalipun. Tinggal, yang diperlukan, bagaimana membangun suasana kondusif untuk merangsang kreativitas itu.

    Seperti yang pernah dituturkan David Pecaut, penggagas Luminato Festival-salah satu festival seni dan kreatif yang terbesar di Kanada, diyakini, pada dasarnya setiap manusia terlahir kreatif. Dalam perjalanan hidupnya, jiwa kreatif ini bisa saja hilang.

    Festival kreatif yang notabene adalah potret kehidupan masyarakat kota adalah upaya menularkan dan merevitalisasi jiwa kreatif ini. Jadi, mari kita sambut Helarfest 2009 ini dengan semangat kreativitas warga kota!

    JON


    Editor: jodhi
    Sumber : Kompas Cetak

    http://oase.kompas.com/read/xml/2009/10/16/20473223/helarfest.2009.pesta.kreatif.warga.bandung..