Minggu, 27 Maret 2011

Earth Hour, Beban Listrik Jawa Bali Turun

Earth Hour, Beban Listrik Jawa Bali Turun
Beban Listrik Jawa Bali Turun 600 MW dan PLN menghemat Rp660 juta.
MINGGU, 27 MARET 2011, 12:51 WIB
Nur Farida Ahniar, Iwan Kurniawan

VIVAnews- Aksi Earth Hour 2011 yang dilakukan di Indonesia semalam pada pukul 20.30 hingga 21.30 terbukti efektif menurunkan penggunaan listrik secara signifikan. Aksi itu berhasil menurunkan beban listrik Jawa Madura dan Bali sekitar 600 Mega Watt (MW).

"Dampak Earth Hour semalam beban listrik di Jawa-Bali turun sekitar 600 MW dari rata-rata normalnya listrik pada malam minggu 15.850 MW menjadi 15.250 MW malam tadi,” jelas Manajer Senior Komunikasi Korporat PLN (Persero) Bambang Dwiyanto saat dihubungiVIVAnews.com, Minggu 27 Maret 2011.

Menurut Bambang, dengan menghemat sekitar 600 MW, maka potensi penghematan listrik PLN tadi malam mencapai Rp660 juta. Walaupun terjadi penghematan, PLN tetap menjalankan pembangkit-pembangkit listrik secara normal.

“Biasanya jam-jam segitu beban listrik tinggi sekali namun semalam beban pembangkit menjadi berkurang,” jelasnya.

Bambang menjelaskan wilayah Indonesia yang paling signifikan penurunan beban listriknya adalah Jakarta dengan penurunan beban sekitar 170 MW. Normalnya beban listrik di Jakarta setiap hari Sabtu mencapai 5.200 MW sedangkan tadi malam beban turun menjadi 5.030 MW.

Earth Hour adalah sebuah kegiatan global yang diadakan oleh WWF pada Sabtu terakhir bulan Maret setiap tahunnya. Program ini meminta setiap rumah dan perkantoran memadamkan lampu dan peralatan listrik yang tidak perlu selama satu jam, untuk meningkatkan kesadaran perlunya tindakan terhadap perubahan iklim.

Earth Hour dicetuskan oleh WWF dan The Sydney Morning Herald tahun 2007 ketika 2,2 juta penduduk Sydney berpartisipasi memadamkan semua lampu yang tidak perlu. Program ini terus dilaksanakan dalam skala internasional termasuk di Indonesia.

• VIVAnews

Kamis, 24 Maret 2011

Ini Dia Majalah Online Besutan Google

Ini Dia Majalah Online Besutan Google
Google menjulukinya sebagai buku atau tool komunikasi yang unik.
KAMIS, 24 MARET 2011, 15:47 WIB
Indra Darmawan
VIVAnews - Google diam-diam baru saja meluncurkan sebuah majalah online berjudul Think Quarterly. Majalah ini memiliki misi sebagai 'tempat rehat di antara dunia yang sibuk'.

"Di Google, kita sering berfikir bahwa kecepatan adalah aplikasi pembunuh yang menjadi racikan pembeda antara pemenang dan yang biasa. Kita tahu bahwa semakin cepat kita menghadirkan hasil, layanan kita akan semakin berguna bagi orang lain. Namun, di antara dunia yang tengah berubah dengan cepat, kita tetap perlu waktu untuk melakukan refleksi," kata Matt Brittin, Managing Director Google Inggris dan Irlandia, pada kata pengantar di majalah itu.

Think Quarterly edisi pertama telah hadir dengan 68 halaman, kebanyakan membahas topik-topik seputar masalah bisnis dan teknologi, dengan gaya penulisan in-depth seperti yang biasa dijumpai di BusinessWeek atau Salon.

Dalam edisi tersebut, Google menghadirkan beberapa tulisan feature tentang CEO Vodafone Inggris Guy Laurence, Google Chief Economist Hal Varian dan psikolog terkenal Peter Kruse.

Tulisan-tulisan di edisi ini banyak ditulis oleh wartawan dari media lain, seperti Simon Rogers (editor rubrik Datablog pada The Guardian), Ulrike Reinhard (editor WE Magazine).

Think Quarterly, majalah online milik Google

Majalah yang dilengkapi dengan banyak data dan aplikasi Flash yang kaya itu disunting dan didesain oleh agensi kreatif The Church, yang berbasis di London.

Tak jelas apakah majalah online ini merupakan tanda-tanda bahwa Google tengah memasuki bisnis media atau sekadar membuat sebuah proyek untuk menghilangkan rasa keingintahuan perusahaan itu semata.

Yang jelas, Google tidak menyebut majalah online ini sebagai 'majalah' atau 'publikasi', namun di situs web dan twitternya, Google menjulukinya sebagai buku atau 'toolkomunikasi yang unik.'
• VIVAnews

Senin, 21 Maret 2011

Ungkap Kepribadian Lewat Warna

Ungkap Kepribadian Lewat Warna

WARNA apa yang dominan Anda kenakan sehari-hari? Hmm... nice! Warna tak hanya sekedar menunjukkan selera atau favorit saja lho, tapi juga menunjukkan kepribadian Anda.

Penelitian ini telah dilakukan bertahun-tahun lamanya. Ditemukan bahwa warna favorit, atau warna yang paling mendominasi isi lemari mengungkapkan kepribadian seseorang. So, let's have fun today. Intip warna favorit yang menceritakan soal Anda yuk!

Hitam

Anda yang menyukai warna hitam cenderung punya pemikiran yang konservatif. Anda sangat tahu apa kelebihan diri Anda. Warna hitam juga cenderung membuat Anda ingin tampil seksi dan percaya diri.

Pink

Warna ini cenderung dikenal sebagai warna feminin. Namun di balik girly image-nya, sebenarnya warna ini menyembunyikan kepribadian Anda yang misterius. Jadi, tak benar jika seseorang yang menyukai warna pink adalah sosok yang sangat girly, bisa jadi ia pandai memainkan gayanya.

Merah

Anda cerdas, berani dan vokal! Anda sangat suka berada di tengah banyak orang dan menjadi pusat perhatian. Anda suka berpetualang dan tak suka ditentang.

Biru

Seperti kesan yang didapat dari kejernihan warnanya, Anda yang menyukai warna biru adalah sosok penyayang dan berjiwa bebas. Anda percaya bahwa kecantikan dari dalam dirilah yang membuat Anda cantik seutuhnya.

Orange

Warna ini menunjukkan Anda adalah orang yang tulus, menikmati tantangan dan hal-hal baru. Anda juga punya ambisi besar serta senang menjadi pusat perhatian.

Kuning

Jika Anda suka warna kuning, maka Anda adalah orang yang optimis. Suka akan tantangan dan kegiatan di luar ruangan, terutama olahraga. Anda adalah orang yang fleksibel dan punya intuisi yang kuat.

Putih

Warna putih ini dikatakan sebagai warna netral, dan demikian pula dengan Anda yang memfavoritkan warna satu ini. Anda cenderung pecinta damai dan tak suka memihak. Anda juga termasuk orang yang tenang dan mudah berteman dengan siapa saja.

Hijau

Jika Anda pecinta hijau, maka tak salah lagi, Anda adalah sosok pecinta lingkungan. Sekalipun mungkin Anda bukan orang yang terjun di dalam organisasi pecinta lingkungan, namun Anda berusaha menjaga lingkungan sekitar Anda. Anda juga sosok yang keras kepala, namun sekaligus teman yang menyenangkan.

Coba ingat lagi, warna apa sih sebenarnya yang dominan di hidup Anda?(kpl/ICH)

http://id.berita.yahoo.com/ungkap-kepribadian-lewat-warna-20110319-222000-681.html

Minggu, 20 Maret 2011

10 Kitchen and Bath Trends for 2011

10 Kitchen and Bath Trends for 2011


By Ilyce Glink, CBS MoneyWatch.com
The Case for Space

The National Kitchen and Bath Association just released its 2011 kitchen and bath study to predict trends for this year. While some trends are definitely on the rise, others that were hot (or not so hot) last year are gaining (or losing) momentum.

Here is the definitive list of what will be big in the coming months:

1. The Case for Space

If you recall, opening rooms was also one of the National Association of the Remodeling Industry’s predicted trends for 2011. It seems that today’s chefs don’t want to be stuck in a stodgy room. And for those who are more frugal, simply knocking down a wall may be enough: “Knocking down a few walls costs a lot less than adding square footage. If you’re a do-it-yourselfer, though, make sure you’re not destroying load-bearing walls.”

Tough Counter to Crack

More from CBS MoneyWatch.com:

World's Most Expensive Home

Housing Rebound? 11 Spots Where Prices Are Rising

For Sale: Homes for Less than $1,000

2. Tough Counter to Crack.

Quartz is back in a big way. People are going for the hard mineral because it is the “perfect alternative to granite and marble for low maintenance and high durability” in both the kitchen and the bathroom. In fact, 85 percent of NKBA bathroom designers incorporate quartz into their designs.

Going Green

3. Going Green.

While it is important to be eco-friendly, this year people are quite literally going green, especially in bathrooms. The calming, earthier tone saw a rise in popularity late last year; at the beginning of 2010 only about 1 in 7 people requested green in their remodel, but by December 1 in 4 wanted the color.

Shake It Up

4. Shake It Up.

Shaker-style kitchens - an organized, wood-paneled, cabinet-centric approach design - are having a major comeback. While people are still leaning towards traditional models, the Shaker utilitarian approach has been used by 55% of kitchen remodelers last year.

Dark Times

5. Dark Times.

Dark natural and deep reddish-brown maple finishes are in this year for cabinetry and even floors. With more people turning to the dark side, medium natural, white, and glazed finishes have fallen by the wayside.

Relax in Style

6. Relax in Style.

People are turning up the volume on in-home luxury; maybe because of the economy, people are finding ways to pamper themselves at home. From spa-like bathrooms to a rise in unchilled, wine cabinets being installed, homeowners are creating spaces in their homes to simply relax. For those on a budget, MSN Real Estate suggests “adding multiple showerheads to a shower typically costs just a few hundred dollars, making it one of the most economical ways to add a spa feel. Also, try to avoid moving fixtures, since that can add enormously to a project’s cost.”

Kitchen 3.0

7. Kitchen 3.0

Most people love new tech toys, so why should the kitchen be any different? From French-doored refrigerators with customizable freezers to an 8% rise in requests for induction stove tops, the future kitchen is here. Surprisingly, as people are integrating more high-tech gadgetry in the kitchen, they are leaning towards more traditional and functional designs (see #4).

Going Green

8. Going Green…The Other Way.

Some choose to paint to be green, but homeowners are also becoming - not surprisingly - more eco-aware in their choices. From bamboo flooring to installing LED lighting, remodeling is taking a turn for the sustainable. NKBA members even said that 89% of the kitchens they designed included some consideration for pull-out trash andrecycling bins, and a distinct rise in both garbage disposals and trash compactors.


You're so vain

9. You’re so vain.

Piggy-backing on the spa bathrooms, vanities are getting a redemption. Remodels are taking a turn from the super-industrial look with finished metal to vessel sinks and integrated sink tops, which have a warmer, more classic feel. The bathroom vanity is also seeing double-dual sinks are now a “given” in master baths.






Hit the Hardwood Floor

10. Hit the (Hardwood) Floor.

While carpeting may have never been the best choice for the kitchen or bathroom, this year it is being panned for the entire house. Hardwood and tile remain a staple, butbamboo flooring is also gaining popularity. Liz Pulliam Weston of MSN Real Estate adds, “high-end linoleum - which sounds like an oxymoron, but isn’t - is being used in more fashionable homes.”

http://shopping.yahoo.com/articles/yshoppingarticles/560/10-kitchen-and-bath-trends-for-2011/

Sabtu, 19 Maret 2011

Awas, Nuklir Jepang

Awas, Nuklir Jepang
200 pekerja bertaruh nyawa untuk mendinginkan reaktor nuklir Fukushima. Jika gagal...
JUM'AT, 18 MARET 2011, 22:23 WIB
Denny Armandhanu
Asap mengepul dari Unit 4 PLTN Fukushima Dai-ichi yang rusak akibat gempa. (AP Photo/Tokyo Electric Power Co)

VIVAnews - Lampu senter tidak terlalu membantu menerangi lorong gelap yang mereka lalui. Ditambah beban berat tangki oksigen serta panasnya baju terusan anti radiasi yang mereka kenakan, situasi sangatlah tidak nyaman.

Apalagi, baju anti radiasi itu pun cuma namanya saja. Pada kenyataannya, pakaian itu hanya melindungi mereka sedikit saja dari bahaya radiasi.

Tapi tak sedikitpun keluhan keluar dari mulut mereka. Padahal, mereka sedang bertaruh nyawa di tempat itu. Setiap detik, bisa saja ledakan dan radiasi merenggut nyawa mereka. Jika pun tak meninggal seketika, berbagai penyakit mengerikan telah mengintai mereka dalam 20-30 tahun ke depan; atau bahkan lebih cepat dari itu.

"Kami sedang melakukan misi bunuh diri. Kami menerima nasib ini seperti menerima vonis mati,” begitu isi pesan singkat seorang pekerja kepada keluarganya.

Adalah 200 pekerja di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Dai-ichi, yang secara sukarela memilih tinggal di tempat berbahaya itu. Mereka mencoba mendinginkan reaktor nuklir yang sedang memuntahkan radiasi dalam batas yang tak terbayangkan, serta memantaunya detik demi detik.

Mereka membagi diri dalam empat shift, tiap kelompok 50 orang. Mereka kerap disebut The Fukushima Fifty, 50 orang luar biasa yang siap mati.

Perusahaan tempat mereka bekerja, Tokyo Power Plant Co (Tepco) menurut New York Times, menolak mengungkapkan identitas para pekerja yang bertahan di situ. Tepco hanya mengatakan mereka ditugasi untuk memompa air laut dan menjaga reaktor tetap dingin. Sekaligus, untuk memantau tingkat radiasi dengan menggunakan pengukur kecil yang mereka bawa, karena pengukur radiasi di instalasi PLTN tersebut telah rusak.

Lebih penting lagi, mereka juga ditugasi untuk mencari cara agar perangkat inti PLTN tidak ikut hancur akibat ledakan berkali-kali beberapa hari lalu. Sebab, jika itu terjadi, akibatnya sungguh fatal. Zat radioaktif bisa menyebar dalam skala besar.

"Melawan rasa lelah dan perut kosong, kami memaksa diri untuk terus bekerja,” tulis salah seorang pekerja, Michiko Otsuki, di Internet.

New York Times menulis, 200 pekerja yang tinggal ini bukanlah para pemuda gagah berani yang memiliki keahlian dan pengetahuan tinggi mengenai nuklir. Bukan pula manajer yang memang bertanggung jawab atas jalannya reaktor. Mereka adalah para lelaki tua, pekerja dan pemadam kebakaran yang sedikit lagi--tidak sampai setengah tahun--akan memasuki masa pensiun.

Jadi, jikapun mereka terpapar radiasi, mereka berharap tak akan sempat merasakan penyakit yang akan menggerogoti tubuh mereka 20-30 tahun dari sekarang. Mereka berharap sudah akan dipanggil Sang Khalik karena usia tua, bukan lantaran leukemia, katarak, maupun kanker.

Di dalam pembangkit nuklir tersebut, tingkat radiasi mencapai 1.000 milliseverts (mSv) dalam satu jam. Tak jelas berapa banyak radiasi yang telah diserap oleh para pekerja itu. Yang jelas, Jepang dan Amerika Serikat telah menetapkan batas aman radiasi yang dapat diterima seseorang hanyalah 50 mSv dalam satu tahun. Untuk situasi darurat seperti ini, Kementerian Kesehatan Jepang membolehkan radiasi hingga 250 mSv, itu pun sudah maksimal.

Dan para pekerja itu mulai berguguran, satu persatu. Dari yang memilih bertahan di dalam pembangkit, lima di antaranya dilaporkan telah meninggal dunia, dua hilang, dan 21 lainnya terluka.

Jutaan nyawa lain

Yang sedang diperjuangkan para pekerja itu, dengan nyawa mereka, adalah enam reaktor nuklir. Tiga telah meledak dalam proses pendinginan. Secara bergantian, mereka memantau dan memompa air laut untuk mendinginkan reaktor untuk mencegah petaka nuklir dan merenggut lebih banyak lagi nyawa manusia.

Setelah gempa 9 Skala Richter dan tsunami dahsyat menerjang pesisir timur Jepang pada Jumat, 11 Maret 2011, nyawa yang melayang sudah tak terkira. Menurut laporan dari Badan Polisi Nasional Jepang per tanggal 16 Maret 2011, korban tewas mencapai angka 3.676 orang, 1.990 terluka, dan 7.558 orang masih dilaporkan hilang di 16 prefektur yang disapu tsunami. Diperkirakan, angka tewas di lapangan jauh lebih besar lagi, dan dikhawatirkan bisa mencapai puluhan ribu orang.

Dan nyawa yang hilang niscaya akan berlipat-lipat jika pembangkit nuklir itu gagal didinginkan, meledak, lalu menebar zat radioaktif yang mematikan keluar.

Adalah getaran gempa yang merusak infrastruktur PLTN yang terdiri dari beberapa bangunan dan enam reaktor. Salah satunya teramat vital: generator diesel raksasa untuk menjaga pendinginan reaktor.

Menurut laman JMA, sistem peringatan dini tsunami terhubung dengan beberapa fasilitas vital di Jepang. Begitu peringatan menyala, sistem akan otomatis menghentikan kereta api, mengendalikan lift, dan mengatur laju lalu lintas. Nah, sistem itu juga lalu memadamkan secara otomatis listrik di reaktor nuklir. Celakanya, ketika itu terjadi, generator sebagai penyalur energi cadangan juga rusak sehingga aliran listrik putus sama sekali. Pendinginan gagal dan petaka pun mengintai.

Tiga unit reaktor nuklir yang masih aktif kini jadi pusat perhatian dunia. Reaktor-reaktor itu adalah tipe reaktor air panas yang membutuhkan temperatur tertentu untuk beroperasi dengan aman.

Seperti diberitakan CNN, batangan bahan bakar (fuel rods) normalnya bekerja di suhu 760 derajat Celcius. Jika suhu meningkat hingga lebih dari 1.200 derajat Celcius, fuel rods akan rusak. Semakin panas lagi, fuel rods akan meleleh. Lelehan inilah yang akan menyebarkan radiasi, bahkan dapat menguapkan inti reaktor. Bila ini sampai terjadi, bencana mengerikan akan terjadi.

Dalam waktu empat hari, tiga reaktor nuklir yang aktif meledak. Reaktor unit satu meledak pada 12 Maret 2011. Unit tiga meledak dua hari kemudian. Dan berselang sehari, giliran unit dua yang meledak.

Perdana Menteri Jepang Naoto Kan pun langsung mengumumkan situasi darurat-nuklir. Sebanyak 170 ribu warga di radius hingga 20 km diungsikan. Di luar itu, pemerintah menghimbau mereka untuk tetap di dalam rumah, menutup semua jalur udara, dan menutup mulut dengan handuk.

Belum jelas apa penyebab pasti ledakan itu. Namun, menurut Associated Press, ledakan terjadi ketika petugas PLTN berusaha mendinginkan reaktor nomor satu menggunakan air. Ternyata, air yang mereka gelontorkan menciptakan hidrogen ketika terpapar fuel rods. Besarnya tekanan memaksa petugas mengeluarkan hidrogen sebagian. Namun, saat dikeluarkan hidrogen itu malah bercampur dengan oksigen dan mengakibatkan ledakan.

Tingkat radiasi yang keluar dari reaktor yang rusak masih turun naik. Menurut MSNBC, pada 15 Maret 2011 radiasi bisa mencapai 11.900 mSv/jam. Para ahli dari Indonesia yang dikumpulkan di KBRI Tokyo, bahkan mengatakan tingkat radiasi di daerah dekat reaktor mencapai hingga 400 ribu mSv/jam.

Petugas yang bekerja pun kucing-kucingan dengan radiasi. Jika memuncak, mereka menyingkir. Jika menurun, mereka maju, melakukan berbagai hal, sebisanya.

Radiasi bahkan dikabarkan terbawa angin dan telah mencapai Tokyo yang berjarak 250 km dari PLTN.

Kepala Badan Energi Atom Internasional PBB (IAEA), Yukiya Amano, pada Rabu, telah menyatakan situasi di Fukushima sangat serius. Amano mengatakan fuel rods di unit 4, 5 dan 6 telah terekspos udara dan menyebarkan radiasi. Berbagai negara mulai menyerukan warga negaranya untuk menjauhi PLTN Fukushima, setidaknya hingga radius 80 km.

Berbahaya, memang.

Namun, nuklir selama ini menjadi andalan Jepang dalam memenuhi kebutuhan listrik mereka sehari-hari. Data dari Federasi Perusahaan Pembangkit Listrik (FEPC) Jepang, negeri ini mengoperasikan 55 reaktor nuklir yang dihasilkan listrik sebesar hampir 50 gigawatt. Energi ini menyumbang 34,5 persen kebutuhan listrik di Jepang.

Di Jepang energi nuklir telah menjadi prioritas strategis sejak 1973. Bagi mereka, energi nuklir merupakan pilihan bijak sebab Negeri Sakura tak memiliki banyak sumber minyak dan gas.

Fukushima bukan kecelakaan nuklir yang pertama di Jepang. Pada pertengahan 1990, sempat terjadi beberapa kecelakaan nuklir, di antaranya kecelakaan Tokaimura. Toh, pemerintah Jepang terus kukuh mengembangkan energi nuklir.

Chernobyl, Three Mile, Fukushima

Tragedi Fukushima langsung mengingatkan dunia pada dua tragedi nuklir lainnya.

Di tahun 1986, pembangkit listrik tenaga nuklir di Republik Sosial Soviet Ukraina (sekarang Ukraina) tiba-tiba mati daya. Akibat memanasnya sistem, beberapa ledakan terjadi. Petaka berpuncak ketika sebagian inti nuklir meleleh.

Radiasi di luar area ledakan mencapai 50 kali lebih besar dari radiasi di Fukushima. Radiasi tingkat tinggi ini menyebar ke seluruh bagian barat Uni Soviet, Eropa Timur, Eropa Barat, dan Eropa Utara. Sebagian besar warga di Ukraina, Belarus dan Rusia diungsikan, dan 336 ribu orang di antaranya memilih tidak kembali.

Akibat paparan radiasi, 31 pekerja PLTN dan pemadam kebakaran yang kala itu berada di lokasi meninggal dalam hitungan bulan. Sebanyak 4.000 anak-anak dan dewasa mengidap kanker tiroid setelah mengkonsumsi susu yang terkontaminasi radioaktif. Dilaporkan, lima juta orang terkena dampak radiasi dan menderita sejumlah penyakit, mulai dari cacat tubuh hingga kanker. Sampai saat ini, tingkat radiasi di Chernobyl masih dalam taraf kritis.

Berdasarkan perhitungan International Nuclear and Radiological Event Scale (INES), skala kecelakaan Chernobyl mencapai level 7, level tertinggi dalam sebuah kecelakaan nuklir.

Sebelumnya, pada tahun 1979, kecelakaan serupa terjadi di Pulau Three Mile, Pennsylvania, AS. Sebagian inti nuklir di PLTN ini juga meleleh. Beruntung, karena selubung reaktor tidak rusak, maka meski radiasi menyebar ke wilayah yang cukup luas, tapi tarafnya masih tergolong rendah. Peristiwa Three Mile dikategorikan kecelakaan nuklir level dua, yakni kecelakaan nuklir dengan cakupan wilayah yang luas.

Bagaimana dengan Fukushima?

Seperti diberitakan NHK, Jumat kemarin, Badan Keselamatan Industri Nuklir Jepang telah menaikkan skala radiasi ke level 5 dari level tertinggi 7 dalam Skala INES. Ini karena lebih dari 3 persen dari bahan bakar nuklir telah rusak dan bahan radioaktif telah bocor dari pembangkit.

Situasi artinya telah menjadi semakin gawat saat KBRI Tokyo pada Rabu sebelumnya mengumpulkan 10 ahli nuklir Indonesia yang rata-rata sedang mengambil gelar doktor di sejumlah universitas di Negeri Sakura.

Para ahli ini, seperti dimuat di laman KBRI, menyimpulkan bahwa kecelakaan di reaktor Fukushima Unit 1 sampai 4 masih di skala 4 INES. Artinya, lingkup kecelakaan masih di sekitar PLTN Fukushima. Namun, kecelakaan ini telah merusak gedung reaktor, kolam cadangan air pendingin, dan mengakibatkan kebakaran di gedung reaktor yang menyimpan bahan bakar bekas.

Jikapun terjadi pelelehan inti nuklir, diperkirakan radiasi yang dilepaskan tidak akan sebesar peristiwa Chernobyl. Dilansir laman The Guardian, setiap reaktor di Fukushima memiliki selubung baja setebal 20 cm. Selubung itu masih dibungkus lagi dengan bangunan beton. Jadi, jikapun meleleh, dampaknya diperkirakan tidak akan terlalu parah.

***

Yang parah tak terkira tentu mereka yang berada di dalam selubung beton tebal itu, di mana para pekerja berani mati masih terus berkutat. Mereka mengusahakan segala cara, semampu mereka, untuk mendinginkan dan memantau reaktor di PLTN Fukushima.

“Saya mendengar kalau dia menawarkan dirinya untuk jadi sukarelawan, walaupun dia akan pensiun setengah tahun lagi. Mataku tak kuasa menahan tangis… Di rumah dia terlihat bukan tipe orang yang mampu melakukan tugas-tugas besar. Tapi hari ini saya sangat bangga padanya. Dan saya berdoa untuk keselamatannya,” tulis seseorang di Twitter dengan akun @NamicoAoto.

Salah satu relawan itu adalah ayah kandungnya sendiri, yang sudah berusia 59 tahun.

"Ayah, aku mohon, kembalilah dengan selamat."

(kd)

• VIVAnews