Jumat, 18/09/2009 09:43 WIB
Mendulang Rezeki dari Melukis Sneakers
Pradipta Nugrahanto - detikBandung
Bandung - Rezeki bisa datang dari mana saja, bahkan dari aktivitas corat coret sekalipun. Seperti yang dilakukan oleh Mohammad Fauzi (18). Berbekal kegemarannya
menggambar, Fauzi berhasil mengantongi penghasilan yang lumayan dibanding remaja seusianya.
"Tadinya saya hanya hobi menggambar saja, tidak ada niatan untuk mengkomersilkan gambar-gambar saya. Nah, tahun lalu saya melihat banyak kreasi sneakers
berwarna-warni. Terus saya dapat informasi kalau ada sneakers yang bisa digambari sendiri. Jadilah saya berminat dengan produk-produk semacam itu," tutur Fauzi ketika ditemui di bengkel kerjanya di Sukamenak Indah Q-18.
Berbekal informasi yang didapatnya dari internet, Fauzi pun memesan sneakers yang digambari sendiri ke sebuah toko di Jakarta.
"Seingat saya itu tahun 2008, karena penasaran saya pesan. Gambarnya saya desain sendiri, ternyata hasilnya tidak seperti yang saya harapkan," ujar Fauzi.
Berangkat dari kekecewaan itu, Fauzi memutuskan membuat sendiri sneakers lukisnya. "Karena enggak puas dengan pesanan, saya mencoba melukis sendiri di atas sneakers polos. Setelah itu saya pakai tiap hang out dan ke kampus, ternyata teman-teman pada berminat," ujar Fauzi.
Di awal Januari 2009, Fauzi mulai menggarap order-order sneakers lukis teman-teman sekampusnya. "Pertama-tama memang baru hitungan jari yang pesan.Tapi saya menggarapnya dengan serius dan menggunakan bahan yang berkualitas," ujar Fauzi.
Lelaki kelahiran Bandung 18 tahun yang lalu ini terus mengeksplor kemampuannya dalam menggambar sneakers. "Memang tidak langsung puas, tapi terus menerus saya perbaiki," imbuh Fauzi lagi.
Saat order sneakers gambar mulai bertambah banyak, Fauzi mulai melebarkan sayap dengan membuat tas lukis. "Jeda tiga bulan dari membuat sepatu itu saya tiba-tiba mendapat ide untuk membuat tas lukis," aku Fauzi.
Untuk sneakers, Fauzi menggunakan sneakers berbahan kanvas. Sedangkan untuk tas, kain blacu dipilihnya. Sedangkan untuk catnya menggunakan Acrilyc Paint.
"Sengaja, soalnya bahan-bahan itu adalah bahan yang paling cocok untuk menggambar. Tahan air dan tidak mudah berubah warna," ujarnya.
Saat ini, Fauzi mampu memasarkan 30 hingga 40-an sneakers setiap bulannya. Terlebih di musim lebaran seperti sekarang, orderan Fauzi meningkat hingga 10 hingga 20 persen.
"Sekarang yang pesan sudah meluas hampir ke seluruh daerah di Indonesia. Bahkan pernah ada juga pesanan dari Singapura. Padahal saya 'hanya' memasarkan lewat
blog dan situs jejaring gratisan," tutur Fauzi.
Fauzi menjual sepatu sneakres bergambarnya dari mulai Rp 70 - Rp 120 ribu sedangkan untuk tas dibanderol mulai Rp 100 ribu. Fauzi memasarkan usahanya ini melalui liezieart.wordpress.com atau lizie.art@live.com.
Hasil berbisnis dari hobi yang tidak sengaja ini diakui Fauzi sangat menguntungkan. "Kalau mau dibilang lumayan, jauh dari lumayan. Soalnya dari hobi yang ternyata menjual ini saya bisa mendapatkan barang-barang lux untuk
mahasiswa seperti saya," seloroh Fauzi.
Meski telah mereguk banyak keuntungan Fauzi tidak lantas melupakan tanggung jawab utamanya sebagai mahasiswa Teknik Industri UNWIM. "Yang utama tetap kuliah dulu. Yah saya bersyukur saja, dari hobi ini kebutuhan-kebutuhan saya bisa terpenuhi," ujar Fauzi.(dip/ema)
Jumat, 18/09/2009 11:16 WIB
Buat Desain The Changcuters Sampai Marylin Monroe
Pradipta Nugrahanto - detikBandung
Bandung - Setelah hampir setahun menekuni usaha dibidang sneakers dan tas lukis, Mohammad Fauzi (18) mengaku banyak mendapatkan order-order gambar kartun. Tapi jangan salah, bukan hanya anak-anak dan kaum hawa yang berminat, laki-laki pun banyak memesan.
"Yang paling sering gambar kartun, dari Doraemon, Spongebob, Astroboy, Mickey-Minnie Mouse dan banyak lagi tokoh-tokoh kartun dan animasi lainnya," ujar Fauzi.
Menurut Fauzi kebanyakan pembelinya adalah remaja hingga anak-anak kuliah. "Malah banyak juga laki-laki yang pesan," tutur Fauzi.
Lelaki yang menjual barang dagangannya dibawah bendera Liezie Art ini pernah mendapat pengalaman unik saat menggarap lukisan.
"Pernah ada yang minta dibuatkan kartunnya The Changcuters, Mr Bean hingga Marilyn Monroe. Selain itu ada juga yang minta set sepatu dan tas sekaligus
Lumayan sulit, tapi setelah jadi dan konsumen puas saya jadi bangga," ujar lelaki yang telah memproduksi lebih dari 300 pasang sepatu dan 50 tas ini.
Ke depan, Fauzi berencana membuat kaos lukis. "Untuk sementara memang hanya sneakers dan tas. Tapi saya akan coba membuat kaos, utamanya kaos-kaos pasangan," pungkasnya.
Menurut Fauzi, hasil lukisannya banyak yang menyangka hasil sablonan. "Banyak yang menyangka kalau saya menyablon sepatu dan tas yang saya pasarkan. Soalnya kalau hanya melihat saja tanpa melihat proses membuatnya memang sulit percaya," tutur Fauzi.
Padahal tidak ada trik khusus yang dilakukan Fauzi ketika menggarap sneakers dan tas-tas buatannya. Fauzi hanya memilih bahan cat terbaik dan memulas karyanya beberapa kali.
"Pertama jelas dibuat polanya dulu dengan pensil. Baru dipulas dengan cat acrylic. Sekali dipulas memang belum cukup, dua kali kadang-kadang masih kurang kuat, sehingga harus dipulas hingga tiga kali. Baru hasilnya memuaskan dan solid," ujar Fauzi menjelaskan.
(dip/ema)
Kamis, 22/10/2009 12:22 WIB
Komunitas Reptil Bandung
Mengajak Lebih Dekat dengan Reptil
Pradipta Nugrahanto - detikBandung
Bandung - Mendengar kata reptil bisa jadi yang ada di bayangan anda adalah hewan berbisa dengan wujud yang mengerikan. Namun bagi para penggemar reptil yang tergabung dalam Komunitas Reptil Bandung (KRB), reptil tak ubahnya seperti peliharaan-peliharaan lain.
"Kita ingin meluruskan pendapat publik yang masih kerap beranggapan reptil adalah hewan yang menyeramkan dan pemeliharanya kerap dinilai aneh. Padahal reptil juga hewan yang bisa dijadikan peliharaan," ujar Adi salah satu anggota Komunitas Reptil Bandung.
Sejak berdiri tahun 2008 lalu, anggota KRB telah tak kurang dari seratusan anggota dengan berbagai koleksi reptilnya.
"Kita biasa ngumpul di Cihampelas Point setiap Jumat sore. Di sana kita bertukar informasi soal reptil sebanyak-banyakanya. Seperti informasi pakan, penyakit hingga jual beli koleksi" tutur Adi.
Beberapa koleksi yang dimiliki KRB adalah boa phyton Afrika, pantoa, ular sanca bodo, boa Columbia hingga biawak sarwana.
"Rata-rata yang kami miliki adalah ular, biawak dan juga kura-kura," tambah Adi.
Adi dan anggota komunitas KRB mengaku biasa berburu hewan-hewan itu dari searching di Internet dan menghubungi toko reptil lokal.
"Seringnya lewat perantara, tapi kadang juga dapat dari iklan di Internet," imbuh Adi.
Harga yang dipatok untuk satu reptil cukup bervariasi. Mulai dari Rp 50 ribuan hingga puluhan juta. "Penilaiannya biasanya diukur berdasarkan asal ditemukan dan tampilan si reptil itu sendiri," ujar
Adi.
Menyoal legalitas reptil-reptil yang dipelihara, Adi menuturkan bahwa komunitasnya memelihara reptil-reptil yang legal.
"Secara keseluruhan legal. Tidak ada yang diselundupkan. Soalnya reptil yang dipelihara didapat dari penangkaran, bukan dari alam bebas," tukas Adi.
KRB juga memiliki agenda rutin yang cukup positif. Yaitu sosialisasi reptil ke sekolah-sekolah. "Kita secara periodik datang ke sekolah-sekolah di Bandung sembari membawa sebagian koleksi reptil kita.
Di sana, kami mengajarkan bagaimana agar tidak takut dengan reptil, cara memegang, cara memberi makan hingga membedakan reptil yang berbahaya atau tidak kita menginformasikan," tutur Adi.
Adi mewakili teman-teman KRB kerap mengatakan jika memelihara Reptil tak ubahnya seperti memelihara kucing atau anjing.
"Sama saja, kalau kita mengurus dengan baik, merekapun tidak akan menyerang kita," ujar Adi.
Bagaimana, anda berminat?(dip/ema)
Senin, 03/08/2009 11:15 WIB
6th Anniversary S2W Community
Brotherhood Not Stickerhood
Salomo Sihombing - detikBandung
Bandung - Berawal dari kesamaan sebagai pengguna motor Suzuki, enam tahun lalu terbentuk komunitas bernama Suzuki 2 Wheels (S2W) Community. Ada pesan penting yang diusung yakni persaudaraan bukan sekadar menempel stiker.
Terbentuk pada 31 Juli 2003, S2W saat ini sudah memiliki 727 member yang terdaftar resmi. Beberapa region yang terdaftar dalam kepengurusan resmi yakni Jakarta, Banten, Bogor, Bandung, Indramayu, Bali.
Pada perayaan ulangtahun ke-6 S2W yang puncak perayaannya digelar di Ciwangun Indah Camp, Bandung, Minggu (2/8/2009), Surabaya menjadi kado istimewa bagi S2W. Kota Pahlawan itu resmi menjadi region ketujuh.
"Ini adalah puncak perayaan ulang tahun kita. Sebelumnya ada beberapa kegiatan yang dilakukan sebagai rangkaian ulang tahun seperti donor darah di Jakarta juga baksos, serta ada rencana Tur Merah Putih ke Dieng sebelum bulan puasa," tutur Ketua Panitia Arif Wamilya Pratama.
Acara ini pun menjadi tugas resmi terakhir Arif sebagai ketua region, karena selanjutnya region Bandung dipercayakan kepengurusannya kepada Epri Triono Saputra. Demikian juga region-region lainnya yang resmi dilantik pengurus barunya untuk periode 2009-2010, oleh Ketua S2W Dharmawan Hartoyo.
Untuk hajatan tahunan ini, panitia menyiapkan acara yang cukup meriah. Ada empat band yang didapuk untuk manggung yakni Metafora, Babies, Unlock dan Peri sejak sore hari. Saat malam menjelang, giliran Female DJ Keysha yang memanaskan pesta.
Tidak hanya yang punya hajatan, sekitar 300 undangan dari 35 komunitas dan klub di Bandung dan Jakarta juga turut memeriahkan.
Lantas apa yang diharapkan pada ulang tahun keenam ini? "Kita mengangkat tema Brotherhood Not Stickerhood dengan harapan benar-benar nyata nilai persaudaraan itu, tidak sekadar merasa sama karena menempel stiker. Tidak hanya antar sesama S2W, tetapi dengan komunitas lainnya juga," harap Arif.
Tidak lupa panitia mengucapkan terima kasih kepada sponsor kegiatan yakni Smart, serta pendukung lainnya seperti NGK, KFC, VR, Torabika, Myzone, Sanggar Mas Jaya, Wigs Food, Bikersmagz serta detikbandung.
Kabar-kabar komunitas di Bandung ada di Forumbandung.
(lom/lom)
Sabtu, 14/11/2009 15:38 WIB
YES Club Bandung
Jadilah Pecipta Lapangan Kerja
Pradipta Nugrahanto - detikBandung
Bandung - Kebanyakan anak muda kota besar seperti Bandung, di era modern ini mulai menggemari wirausaha sebagai salah satu pilihan karier mereka. Maka itu, perlu wadah yang diharapkan bisa mendukung mereka yang ingin meniti karier di bidang enterpreneur.
Seperti dituturkan Denny Willy sebagai Ketua Yayasan Apikayu yang juga salah satu bagian dari Young Enterpreneuers Start Up (YES) ketika ditemui wartawan di sela-sela Launching YES Club Bandung di Common Room, Jalan Kyai Gede Utama No 8, Sabtu (14/11/2009).
"Sekarang mindsetnya harus digeser. Dari pekerja, menjadi pecipta lapangan kerja. Terlebih untuk mereka di usia 18 hingga 35 tahun," jelasnya.
Untuk mengarahkan generasi muda Bandung dan Indonesia umumnya menjadi enterpreneur-enterpreneur muda baru, maka dibentuklah YES Bandung.
"YES sendiri sudah berjalan sejak 2003 di Jakarta. Awalnya bertujuan memberi kemudahan akses kepada enterpreneur muda untuk mendapatkan modal," tutur Denny.
Seiring perkembangannya, YES mulai berkembang menjadi lebih dari sekadar pembuka jalan mendapatkan modal secara mudah. YES pun mulai mengarah ke coaching profesional enterpreneur ke enterpreneur pemula.
"Kita ingin transfer ilmu dari mereka yang sudah lama bergelut dibidang enterpreneur dan mereka yang baru meniti langkah dibidang ini. Dan perlu ditegaskan, mentor-mentor itu bekerja secara sukarela," ujar Deny.
Di Bandung, YES bekerjasama dengan Indonesia Business Links, Yayasan Apikayu dan Common Rooms.
"YES bersifat sukarela, makanya kami menggandeng lembaga-lembaga yang sifatnya sukarela juga. Untuk di Bandung, kami menggandeng Common Room," terang Deny.
Deny menambahkan, saat ini model usaha yang sedang berkembang di Bandung adalah kuliner dan distro.
"Dua segmen bisnis itu sedang begitu naik daun di kalangan anak muda Bandung. Lewat YES ini, kami mencoba mengarahkan enterpreneur-enterpreneur muda untuk bisa membuka mata pada bidang-bidang lain," ujar Deny.
Pada saat launching, tak kurang dari 40 calon enterpreneur muda bergabung dengan YES Bandung. "Ini indikasi positif. Artinya minat kaum muda ke dunia enterpreneur sudah semakin terbuka," tandas Deny.
(dip/bbn)
Kamis, 27/08/2009 16:23 WIB
Laptop Meledak Tewaskan Seorang Pria
Fino Yurio Kristo - detikinet
Ilustrasi (scienceblog)
British Columbia - Ledakan sebuah laptop disimpulkan sebagai penyebab tewasnya seorang pria di wilayah British Columbia, Kanada. Laptop meledak saat diletakkan di sofa dan api yang timbul menjilat habis rumahnya.
Kejadian tragis tersebut membuat otoritas setempat, British Columbia Coroners Service memperingatkan agar warga tak sembarangan menaruh laptop sekaligus hati-hati saat mengoperasikannya.
Korban, seorang pria usia 56 tahun jadi orang pertama di British Columbia yang tewas akibat ledakan laptop. Laptop itu dibiarkan menyala di atas sofa. Sekitar 50 menit kemudian, laptop tiba-tiba meledak dan api yang ditimbulkan membuat rumah terbakar. Korban terjebak di rumahnya dan tewas dalam tragedi itu.
Kesimpulan itu disampaikan melalui investigasi cukup lama dari lembaga Coroner Service yang biasa menyelidiki sebab-sebab kematian orang.
"Laporan mengkonfirmasi bahwa laptop jadi sumber api. Laptop diletakkan di permukaan yang lunak dan investigator berhasil melacak sumber api berasal dari tempat di mana laptop diletakkan," tutur Jeff Dolan, juru bicara Coroner Service.
DIlansir Canadian Press dan dikutip detikINET, Kamis (27/8/2009), publik pun dinasehati agar mengoperasikan laptop di permukaan yang keras. Sebab permukaan lembut bisa mempersulit aliran udara di ventilasi yang ujung-ujungnya membuat laptop overheat dan berisiko meledak.
Selain itu juga agar publik memperhatikan mengenai baterai lithium ion yang kadang bermasalah. Sebab dalam investigasi, laptop yang jadi 'tersangka' merupakan versi produk Hewlett Packard yang dulu di-recall terkait baterai lithium ion yang berpotensi meledak. ( fyk / faw )
Kamis, 20/08/2009 11:00 WIB
Produk Rawan Meledak, Apple Diselidiki
Santi Dwi Jayanti - detikinet
shattered iPhone (GadgetCrave)
Jakarta - Kasus meledaknya produk-produk Apple di sejumlah tempat, membuat sebuah lembaga pengawas keamanan konsumen di Eropa gerah. Mereka mulai melakukan pemeriksaan terkait kecelakaan yang terjadi berulang-ulang ini.
Beberapa waktu lalu sebuah kasus meledaknya iPhone terjadi di Perancis yang menyebabkan mata seorang remaja terluka. Kejadian ini menyusul sebuah peledakan iPod milik Ellie Stanborough, gadis berusia 11 tahun yang bermukim di Liverpool, Inggris. Masih ada lagi serentet kejadian-kejadian serupa.
Kecelakaan yang berulang-ulang ini tentunya membuat pengawas keamanan konsumen European Union tidak tinggal diam. Mereka menegaskan akan melakukan penyelidikan terhadap masalah ini.
"Kami telah meminta Apple untuk memberikan informasi yang mereka punya pada kami, atas laporan terkait peledakan iPhone dan iPod, ujar pihak dari European Commission.
Selain itu, mereka juga telah mengirimkan peringatan melalui sistem keamanan produk Rapex agar 27 anggota EU turut mengirimkan berita terkini, masih terkait 2 produk besutan Apple itu. Pihak Apple mengaku menerima laporan tentang serentet kejadian meledaknya produk besutan mereka tersebut. Saat ini mereka masih menunggu konsumen menyerahkan unit yang rusak untuk diteliti. Apple mengatakan belum bisa berbuat apa-apa hingga mereka mempunyai informasi komplit, demikian seperti dilansir detikINET dari Telegraph, Kamis (20/8/2009).
Sekadar informasi, atas kecelakaan yang terjadi yang menimpa sejumlah konsumen Apple, Apple pernah mencoba untuk memblokir pemberitaan kasus ini dari seorang jurnalis di Amerika pada bulan Juli lalu. Dan sebelumnya, pada bulan Juni, Apple pernah meminta semua unit generasi pertama iPod Nano di Korea Utara untuk dikembalikan karena kasus baterai yang meledak. ( sha / faw )