Tampilkan postingan dengan label Orang Tua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Orang Tua. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Januari 2011

Orang Tua Takut Perbaiki Gadget Sendiri

Orang Tua Takut Perbaiki Gadget Sendiri
Usia dan gender mempengaruhi keyakinan diri untuk menghadapi kerusakan perangkat teknologi
SELASA, 18 NOVEMBER 2008, 17:19 WIB
Indra Darmawan
iPhone Rusak (wired.com)

Orang muda selalu diasosiasikan dengan sikap melek teknologi. Agaknya ini sejalan dengan hasil riset yang dilakukan oleh PEW Internet & American Life Survey, baru-baru ini.

Hasil riset tersebut mengungkap temuan bahwa kebanyakan orang tua di Amerika Serikat merasa takut untuk memecahkan masalah yang dijumpai pada perangkat teknologi mereka.

Dari penelitian yang mereka lakukan, kebanyakan kaum muda lebih optimis daripada orang tua, saat gadget mereka rusak.

Walau pada kenyataannya banyak dari mereka yang tak mampu memperbaiki kerusakaan, setidaknya orang-orang muda sangat yakin bahwa mereka berada dalam jalur yang benar, untuk memperbaiki kerusakan tersebut.

Sebanyak 85 persen dari responden berusia 18-29 tahun mengaku yakin mampu dalam memperbaiki kerusakan peralatan yang mereka miliki.

Di lain pihak, 52 persen responden yang berusia 30 tahun ke atas, mengaku takut bila disuruh membetulkan kerusakan, dan 44 persen mengaku bingung bila dihadapkan dengan situasi itu.

Tak hanya masalah usia, masalah gender juga turut mempengaruhi. Riset itu mengatakan bahwa pria lebih percaya ketimbang wanita, saat melakukan problem solving.

Responden pria yang pede dalam membetulkan kerusakan, besarnya 76 persen, lebih besar dari prosentase wanita yang angkanya hanya 68 persen.

Biasanya para responden mengalami masalah dalam hal koneksi Internet di rumah (46 persen), masalah komputer (28 persen), ponsel (21 persen), iPod atau MP3 lain (3 persen), Blackberry, Palm, atau PDA (2 persen).

"Namun, survei tak menemukan hubungan reaksi emosional saat kerusakan perangkat, dengan besar pendapatan dan latar belakang pendidikan," ujar laporan yang dirilis Minggu lalu itu.

Survei tersebut dilakukan oleh John Horrigan dan Sidney Jones, dilakukan antara 24 Oktober 2007 hingga 2 Desember 2007, terhadap 2054 responden di Amerika Serikat.

• VIVAnews

Rabu, 12 Januari 2011

China Wajibkan Anak Perhatikan Orang Tua

China Wajibkan Anak Perhatikan Orang Tua
167 juta warga di China kini berusia 60 tahun ke atas dan setengah dari mereka sendirian
JUM'AT, 7 JANUARI 2011, 08:19 WIB
Renne R.A Kawilarang
Orang tua berjalan di depan kuil (AP Photo/Junji Kurokawa)

VIVAnews - China berencana mewajibkan warga untuk rutin menjenguk orang tua mereka yang masih hidup, sekaligus memberi perhatian yang layak kepada mereka. Kebijakan ini ditujukan demi melestarikan tradisi menghormati leluhur di negeri itu.

Menurut stasiun televisi BBC, Kamis, 6 Januari 2010, kebijakan itu telah disiapkan dalam rancangan amandemen undang-undang mengenai perlakuan kepada orang tua. Dalam rancangan peraturan itu, orang tua berhak mengadu ke pengadilan bila merasa kurang mendapat perhatian dari anak-anak mereka, baik secara fisik maupun mental.

Di China, merawat orang tua merupakan bagian dari tradisi turun-temurun. Namun, menurut kalangan pengamat, tradisi itu kian luntur. Pasalnya, banyak warga bermigrasi ke kota untuk mencari penghidupan yang layak. Selain itu, tidak sedikit warga China yang mengalami tekanan kerja sehingga menyita waktu mereka untuk melakukan kegiatan lain, termasuk memberi perhatian kepada orang tua.

Di sisi lain, pemerintah dipusingkan dengan makin banyaknya orang tua yang tidak lagi hidup bersama anak-anak mereka. Menurut data pemerintah, seperti yang dikutip China Daily, sekitar 167 juta warga di China kini berusia 60 tahun ke atas dan setengah dari mereka tinggal sendiri.

Pihak berwenang pun makin sering menerima laporan bahwa ada orang tua yang meninggal di rumahnya tanpa segera diketahui kerabat. Maka, pemerintah berencana mengamandemen Undang-undang Perlindungan Hak dan Kepentingan Kaum Lanjut Usia. Undang-undang itu sendiri telah diberlakukan sejak 1996.

Namun, seorang pengamat hukum bernama Qian Jun menilai sulit bagi pemerintah untuk mewajibkan warga memberi perhatian cukup kepada orang tua melalui undang-undang. "Lebih baik dicari cara untuk memperkuat pendidikan moral ketimbang memaksa warga untuk melakukannya di bawah undang-undang," kata Qian. (kd)

• VIVAnews