Tampilkan postingan dengan label Laptop. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laptop. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Oktober 2010

Cepat Tua di Depan Laptop

Cepat Tua di Depan Laptop


Cepat Tua di Depan Laptop

VIVAnews - Bekerja di depan komputer atau laptop selama berjam-jam terkadang sulit dihindari. Paparan komputer dengan frekuensi tinggi bukan hanya memicu gangguan mata atau tulang, tetapi juga penuaan dini.

Gejala penuaan dini akibat paparan komputer itu dikenal dengan istilah 'computer face'. Ciri-cirinya: dagu berlipat, kulit leher mengendur serta muncul kerutan di sekitar dahi dan mata.

Dr Michael Preydzher, dokter spesialis kulit asal Inggris, memberi peringatan kepada setiap orang yang harus bekerja di depan komputer selama berjam-jam. Ia sudah menemukan tanda-tanda penuaan dini pada sejumlah pasiennya yang terlalu lama menghabiskan waktu di depan komputer.

“Jika Anda termasuk salah satu orang yang sering berkonsentrasi keras di depan layar komputer dan sering memicingkan mata, kerutan dini dijamin pasti akan muncul," kata Preydzher seperti dikutip dari Genius Beauty.

Untuk mengidentifikasi hal ini, Preydzher meminta setiap wanita untuk menempatkan cermin ukuran kecil di samping komputer mereka. Ini untuk mengamati perubahan pada wajah mereka setiap harinya

“Ketika klien saya meletakkan cermin di samping komputernya, mereka merasa 'seram' melihat wajahnya yang terlihat marah, lusuh dan stres selama bekerja," Preydzher menambahkan.

Untuk menghindari penuaan dini itu, Preydzher mengingatkan pentingnya istirahat di sela-sela kesibukan dengan komputer. Olahraga yang dikhususkan melatih otot wajah dan leher juga harus dilakukan secara teratur. (pet)

Baca juga: Bahaya Memangku Laptop

http://id.news.yahoo.com/viva/20101008/tls-cepat-tua-di-depan-laptop-34dae5e.html

Senin, 02 November 2009

Urusan Laptop, Pelajar Suka yang Murah-murah

Jumat, 21/08/2009 11:01 WIB

Urusan Laptop, Pelajar Suka yang Murah-murah
Santi Dwi Jayanti - detikinet

Ilustrasi (Ist)


Jakarta
- Laptop seperti apa sih yang jadi favorit para pelajar? Tentunya bukan Mac, karena para pelajar pastinya suka yang murah-murah. Jadi untuk Apple, minggir dulu.

Retrevo, situs elektronik konsumen, lewat survei yang mereka lakukan, menyimpulkan bahwa kalangan pelajar tidak berminat untuk membeli laptop dengan harga yang mahal, seperti Mac. Sebagian besar pelajar akan memilih untuk membeli laptop dengan kisaran harga tertentu yang pastinya ramah di kantong.

Berikut lebih rincinya seperti yang dikutip detikINET dari PCWorld, Jumat (21/8/2009). Dari sekitar 300 pengunjung situsnya yang disurvei, ditemukan bahwa 49% dari mereka akan membeli laptop Windows full-sized dan 34% akan memilih membeli netbook keluaran beberapa vendor. Sedang Mac hanya mendapat sisa presentase sebanyak 17% saja.

Masih menurut data dari Retrevo, sebesar 18% dari partisipan mengakui mereka tak akan menghabiskan kocek di atas U$S 1000 (sekitar Rp10 juta) untuk sebuah laptop. 58% dari mereka memilih untuk belanja laptop dengan harga di bawah U$S750.

Wah, Apple sepertinya masih belum bisa menembus pasar pelajar, mengingat tahun-tahun sebelumnya ia juga melempem jika berhadapan dengan pelajar. Padahal, perusahaan Steve Jobs sudah berusaha menggaet pasar ini dengan promosi spesial beli MacBook dapat iPod touch gratis.

Namun, jika merujuk pada hasil studi Retrovo di atas, sepertinya Apple belum mencapai hasil yang diharapkan.
( sha / ash )

Laptop Dilarang Masuk Kafe Kopi

Selasa, 11/08/2009 09:55 WIB

Laptop Dilarang Masuk Kafe Kopi
Fransiska Ari Wahyu - detikinet

ilustrasi (ist)


Jakarta
- Nongkrong di kafe sambil meneguk kopi dan mengakses internet tentu menyenangkan. Namun, di New York, sejumlah kafe mulai melarang pengunjung menggunakan laptop di dalam kafe. Lhoh kenapa?

Tentu bukan tanpa alasan pengelola kafe 'sentimen' dengan pengunjungnya yang menggunakan laptop di dalam kafe. Pasalnya, seringkali para pengunjung hanya membeli minuman dengan harga paling murah, kemudian betah berjam-jam duduk di kursi empuk sambil mengakses internet secara cuma-cuma, dannumpang mengisi ulang baterai laptop.

Alhasil pengelola kafe merasa dirugikan, karena dari luar, kafe mereka terlihat penuh sehingga orang yang mungkin ingin membeli mengurungkan niatnya. Padahal sesungguhnya orang-orang yang duduk di dalam kafe hanya numpang berinternet ria tanpa melakukan pembelian dalam jumlah banyak.

Oleh karena itu seperti dikutip detikINET dari Fiercebroadbandwireless, Selasa (11/8/2009), sejumlah kafe kopi, khususnya yang terbilang kecil, membatasi akses WiFi di kafe. Bahkan ada juga yang melarang pengunjung menggunakan laptop, mematikan router wireless, dan memasang tanda dilarang menggunakan laptop.

Ada juga kafe yang tidak melarang pengunjung mengakses internet, tapi memungut biaya untuk penggunaan akses WiFi di kafe.
( faw / fyk )

Waspada, Pencuri Laptop Gentayangan di Kafe

Jumat, 28/08/2009 07:31 WIB

Waspada, Pencuri Laptop Gentayangan di Kafe
Muhammad Nur Abdurrahman - detikinet

ilustrasi (ist)


Makassar
- Jika Anda gemar online di kafe yang berfasilitas wi-fi, waspadalah terhadap penodong yang setiap saat mengintai laptop Anda. Seperti kasus yang dialami oleh Muhammad Yamin, mahasiswa jurusan Keperawatan Sekolah Tinggi Kesehatan (Stikes) Panakukang, yang dirampas laptopnya saat ber-online ria di warung kopi Aroma Sejuta Rasa, di jalan Borong Raya, Makassar (28/08/2009).

Menurut Yamin, yang ditemui detikcom saat melapor di Mapolres Makassar Timur, di warkop tersebut, sambil ber-online ia juga mengetik Karya Tulis Ilmiah atau tugas akhir di kampusnya yang akan dikonsultasikan dengan pembimbing di kampusnya. Tiba-tiba laptop yang ia pakai langsung dirampas oleh seorang pria yang memakai cadar berwarna hitam dan berpostur tubuh jangkung.

Saat kejadian itu, lanjut Yamin, suasana di warkop tersebut masih ramai oleh para pengunjung yang sibuk sendiri dengan laptopnya masing-masing. Yamin sempat mengejar dan berusaha mengambil kembali laptopnya, namun ia mendapat hunusan badik dari pria misterius tersebut.

"Mungkin karena kaget saya tidak sempat teriak minta tolong, pria itu langsung merampas laptop dan lalu kabur dengan temannya yang sudah menunggu di atas motor Yamaha Jupiter hitam," tutur Yamin.

Yamin kini hanya bisa pasrah menerima musibah yang ia alami, selain kehilangan laptopnya, ia juga terpaksa harus mengulang dari awal pembuatan tugas akhirnya di Stikes Panakukang.

Di bulan Ramadan ini, kasus perampasan laptop di kafe berfasilitas Wi-Fi sudah dua kali terjadi. Yang pertama, di hari kedua Ramadan lalu, Minggu (23/08/2009), tiga pengunjung kafe D'Green di jalan Sungai Saddang Baru juga mengalami nasib serupa dengan Yamin. Tapi pada saat itu, memang suasana kafe D'Green masih sepi dari pengunjung.

Sementara itu, menurut Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian unit A Mapolres Makassar Timur, Ipda Iman Teguh yang ditemui detikcom di ruangannya, menuturkan bahwa kedua kasus perampasan laptop di kafe internet hampir sama modusnya. Yakni pelaku memakai cadar hitam, menodong dengan badik dan sigap kabur berboncengan dengan sepeda motor.

"Kasus pastinya akan segera dilimpahkan ke unit Reskrim Makassar Timur, mudah-mudahan pelakunya segera tertangkap," pungkas Teguh.

( mna / faw )

iPod dan Laptop Geser Eksistensi Buku Pelajaran

Senin, 14/09/2009 12:16 WIB

iPod dan Laptop Geser Eksistensi Buku Pelajaran
Santi Dwi Jayanti - detikinet

Student using laptop (smu.edu)


Jakarta
- Kehadiran iPod dan laptop sepertinya telah menggeser keberadaan buku t. Setidaknya inilah yang terjadi di beberapa sekolah di Amerika Serikat. Di sana, mereka rela 'membuang' buku-buku pelajaran dan menggantinya dengan gadget terbaru.

iPod dan laptop dinilai lebih menghemat uang dibandingkan dengan buku-buku pelajaran sehingga para pelajar di beberapa sekolah diwajibkan menggunakannya. Hal ini tak lepas dari kemudahan untuk melakukan update secara instan, alih-alih membeli buku baru.

Selain itu, dengan iPod dan laptop, para pelajar akan mudah terkoneksi dengan internet yang menyimpan jutaan informasi penting.

Seperti di sekolah Cushing Academy, Boston yang telah mengambil langkah ini. "Kami memutuskan bahwa kami bisa maksimal menggunakan sumber daya kami jika kami mengoptimalkan e-books dan e-resources," ujar sang kepala sekolah, James Tracy.

Begitu juga dengan di Empire High School. Di sekolah publik yang terletak di Tucson ini, Anda bahkan tak akan menemui satupun buku pelajaran, karena sejak hari pertama pelajar masuk, mereka telah dibekali laptop alih-alih setumpuk buku.

Tak jauh beda dengan di Monticello High School, Virginia, mereka juga memakaikan gadget bagi para pelajar. Namun yang mereka pakai bukanlah laptop, melainkan iPod touch keluaran Apple. Alat ini bahkan dipakai untuk alat belajar yang paling utama.

Para pelajar Monticello mengatakan, memakai iPod touch untuk mengerjakan PR hanya memakan sedikit waktu dan juga lebih menyenangkan serta terlihat lebih keren.

Tetapi apakah tidak dikhawatirkan bahwa piranti-piranti tersebut akan disalahgunakan oleh pelajar untuk browsing situs-situs buat kesenangan daripada buat belajar, seperti Facebook-an misalnya?

Tentang hal ini, salah satu guru dari Monticello, Craddock mengatakan, pihaknya telah memblokir sejumlah situs populer kecuali Twitter. Dilansir detikINET dari ABC, Senin (14/9/2009), Twitter malahan dipakai di kelas guna menyebarkan soal yang harus pelajar jawab. ( sha / ash )

Pilot Asyik Laptop-an, Pesawat NgeloyorRatusan Km

Selasa, 27/10/2009 14:54 WIB

Pilot Asyik Laptop-an, Pesawat NgeloyorRatusan Km
Santi Dwi Jayanti - detikinet

Laptop (Acc-tv)


Minneapolis
- Asyik bermain dengan laptop seringkali membuat orang tidak aware akan keadaan sekitarnya. Nah, bagaimana bila ini terjadi pada pilot yang sedang menjalankan tugasnya?

Di Amerika, dua pilot yang masing-masing berusia 53 dan 54 tahun terancam kehilangan pekerjaan akibat kesalahan fatal yang telah mereka lakukan. Membawa 147 penumpang dalam pesawat Northwest Airline Airbus A320 di atas ketinggian, kedua pilot ini malah nyambi berbincang sembari memainkan laptop yang menyebabkan mereka lupa untuk mendaratkan pesawatnya.

Pesawat yang berangkat dari San Diego ini tiba-tibangeloyor sejauh 150 mil (240 km), padahal seharusnya saat itu mereka sudah landing di Minneapolis.

Panggilan dan teguran dari pusat pengendali tidak mereka hiraukan, karena ternyata mereka keasyikan dengan laptopnya. Beruntung mereka akhirnya menyadari kelalaiannya, kemudian segera minta ijin pada controller untuk memutar dan selamnat tiba di St Paul International Airport.

Kedua pilot sebelumnya dikabarkan tengah asyik berdiskusi mengenai penjadwalan ulang kru pesawat yang menyebabkan mereka lengah. Namun belakangan mereka mengaku bahwa mereka juga asyik laptop-an. Penyelidik mengatakan, "Mereka berdua telah lupa waktu".

Kini sang pilot tengah menjalani skors dan terpaksa menghadapi ancaman pemecatan. Delta AirLines yang memiliki Northwest menegaskan dalam sebuah pernyataan yang dikutipdetikINET dari Reuters, Selasa (27/10/2009), bahwa penggunaan laptop ataupun melakukan aktivitas yang tidak berkaitan dengan penerbangan pesawat telah melanggar kebijakan perusahaan. ( sha / ash )