Rabu, 06 April 2011

Sop Buntut Cut Meutia

Sop Buntut Cut Meutia
Laksmi Pamuntjak

Jl. Menteng Kecil 1
Menteng
Jakarta Pusat
Tel. 392 4213, 312 6266,
3192 4367

Warung ini menawarkan yang langka itu: sop buntut yang mantap, bersejarah, dengan harga yang terjangkau. Juga suasana yang laras, persis di seberang Mesjid Cut Meutia, masih dalam naungan keasrian lingkungan Menteng yang klasik.

Sop buntut memang bukan jenis jajanan yang populer, karena buntut sapi terkenal mahal, dan entah kenapa mencari racikan kuah yang pas sangat sulit di sekujur Nusantara. Pak Sangadi yang bermangkal di Hotel Borobudur dulu adalah contoh yang tak terlupakan di kota ini—bertahun-tahun ia berhasil menunjukkan bahwa sop ini layak masuk ke dalam daftar jenis-jenis makanan Indonesia terpilih—tapi ya itu tadi, dengan itu ia pun mengukuhkan asosiasi sop buntut dengan makanan hotel bintang lima. Sulit mengubah persepsi masyarakat yang telah mengental itu.

Maka, kita patut bersyukur karena sop buntut Cut Meutia—yang semenjak 1967 mengartikulasikan dirinya sebagai standard rujukan alternatif—masih terus bertahan, dan juga dengan harga yang sama sekali tak bisa dibilang mahal. Warisan kuliner yang berdiri tegak di atas resep pendirinya, alm. Hj. Nurjanah, ini mampu melestarikan formula yang jitu: campuran kaldu mantap kemerahan dengan sedikit sekali kandungan lemak, dan buntut yang lembut dan gurih. Di jam-jam padat mereka, umumnya jam makan siang di tengah minggu, sekitar 40 buntut terpakai untuk mempertahankan sebuah legenda.

Harga: seporsi sop buntut Rp 22.000, seporsi buntut goreng Rp 24.000
Jam buka: 09.00 – 16.00


Sumber : Jakarta Good Food Guide

Selasa, 05 April 2011

Bahaya Kerja Lebih dari 11 Jam Sehari

Bahaya Kerja Lebih dari 11 Jam Sehari
Karyawan yang bekerja lebih dari 11 jam berisiko 67% terserang jantung.
SELASA, 5 APRIL 2011, 13:33 WIB
Petti Lubis, Febry Abbdinnah

VIVAnews - Dalam lingkungan masyarakat aktif, terdapat sekelompok orang yang rela menghabiskan 11 jam waktunya dalam sehari untuk bekerja. Bahkan lebih dari 11 jam per hari. Tapi, tahukah Anda, kebiasaan tersebut justru tidak menyehatkan dan memicu beragam penyakit?

Menurut sebuah penelitian, menghabiskan lebih dari 11 jam di tempat kerja dapat meningkatkan risiko serangan jantung. Risikonya sebanyak dua pertiga lebih tinggi dibandingkan mereka yang bekerja kurang dari 11 jam sehari.

Tim peneliti dari Unversitas Collage London mengamati lebih dari 7000 pegawai sipil yang bekerja pada Whitehall selama 11 tahun dan berapa jam waktu yang dibutuhkan mereka untuk bekerja setiap harinya.

Peneliti mengungkapkan, risiko sangat besar sehingga dokter harus menanyakan berapa jam mereka bekerja dan berapa banyak mereka minum alkohol atau merokok. Mereka juga mengumpulkan informasi terkait kondisi hati atau liver mereka dari catatan medis dan pemeriksaan kesehatan. Selama periode tersebut, sebanyak 192 responden menderita serangan jantung.

Hasil studi yang dipublikasikan dalam the journal Annals of Internal Medicine, menemukan bahwa karyawan yang bekerja lebih dari 11 jam berisiko 67% terserang jantung dibandingkan mereka yang bekerja dari pukul 9 pagi hingga lima sore.

Para peneliti mengatakan penemuan mereka berpotensi mencegah ribuan orang dari serangan jantung selama setahun dan dapat membantu para dokter menentukan penyebab pasien terserang jantung. Contohnya, serangan jantung pada pasien yang sudah berisiko tinggi karena obesitas dan merokok, dapat dicegah melalui mengurangi jam kerja mereka.

"Kami telah menunjukkan, hari kerja yang panjang dapat dikaitkan dengan peningkatan luar biasa dalam risiko terkena penyakit jantung," ujar pemimpin penelitian Professor Mika Kivimäki, dikutip oleh laman Daily Mail.

Informasi baru ini dapat membantu pengambilan solusi pengobatan untuk penyakit jantung. Selain itu, dapat digunakan untuk menyadarkan orang-orang yang terlalu sibuk bekerja, terutama bagi mereka yang memiliki faktor pendorongan serangan jantung lainnya.

Biasanya penyakit jantung terjadi karena adanya penyumbatan pembuluh darah oleh lemak. Risiko ini meningkat jika orang tersebut merokok, memiliki tekanan darah dan kolesterol tinggi.

"Penelitian Whitehall sangat membantu kami membentuk pemahaman terkait faktor penentu sosial dari penyakit jantung," ujar Profesor Peter Weissberg, direktur medis di British Heart Foundation.

Namun menurutnya, temuan baru ini memerlukan penelitian lebih lanjut untuk menjelaskan bagaimana hal ini dapat berpengaruh bagi kesehatan jantung sehingga dapat mengubah pendekatan para dokter untuk menilai risiko serangan jantung seseorang dan solusi yang dapat mereka berikan pada kondisi kerja pasien.

• VIVAnews

Tips Agar Tak Terjerat Kartu Kredit

Tips Agar Tak Terjerat Kartu Kredit
Kartu kredit bukan tambahan utang atau pendapatan.
SELASA, 5 APRIL 2011, 11:44 WIB
Arinto Tri Wibowo

VIVAnews - Asosiasi Kartu Kredit Indonesia menyatakan hingga akhir Februari 2011, pemegang kartu kredit di Indonesia telah mencapai 13,6 juta orang. Jumlah tersebut meningkat sekitar 13 persen dibanding data terakhir yang dipublikasikan di situs AKKI sebanyak 12 juta orang.

AKKI saat ini beranggotakan lebih dari 20 institusi penerbit kartu kredit dengan lebih dari 300 ribu merchant. Sebagai mitra dari beberapa prinsipal seperti American Express, JCB International, MasterCard International, dan Visa, serta bersama bank pengelola kartu kredit, AKKI berusaha meningkatkan kenyamanan bagi pengguna transaksi kartu kredit dalam melakukan transaksi.

Sementara itu, bekerja sama dengan unsur Criminal Justice System, seperti Kepolisian, Kejaksaan Agung, dan Mahkamah Agung, AKKI juga berusaha meningkatkan keamanan dalam melakukan transaksi kartu kredit bagi pemegang kartu dan merchant.

Meski demikian, menurut Ketua AKKI, Dodit W Probojakti, mengingatkan pengguna untuk selalu memahami manfaat pemakaian kartu kredit itu. Dia pun memberikan tiga tips sederhana terkait penggunaan kartu kredit.

Pertama, kartu kredit bukan tambahan utang atau pendapatan. Kartu kredit merupakan salah satu alat untuk memudahkan transaksi, sehingga pengguna tidak perlu banyak membawa uang tunai. "Tapi, ada tanggung jawab dari pengguna setelah menggunakan haknya dalam bertransaksi, yakni membayar tagihan," kata Dodit kepada VIVAnews.com.

Kedua, kartu kredit harus digunakan secara bijaksana dan disesuaikan dengan pendapatan. "Jangan melakukan transaksi kartu kredit yang melebihi pendapatan pengguna tiap bulannya," ujarnya.

Apalagi, dia menjelaskan, ada ketentuan bahwa pembayaran transaksi kartu kredit minimal 10 persen dari total tagihan. Meski demikian, pengguna kartu kredit di Indonesia rata-rata melakukan pembayaran sekitar 35-60 persen dari total tagihan kartu kreditnya.

Ketiga, upaya paling baik ketika nasabah menghadapi masalah terkait transaksi kartu kreditnya adalah membicarakannya dengan bank penerbit. "Ini cara paling benar, yaitu bernegosiasi dengan bank penerbit untuk mencari solusi," tuturnya.

Upaya ini, menurut Dodit, juga terkait dengan peristiwa meninggalnya nasabah Citibank beberapa waktu lalu. Seperti diketahui, nasabah Citibank, Irzen Octa, meninggal setelah mempertanyakan jumlah tagihan kartu kredit yang membengkak hingga Rp100 juta.

"Kami sangat menyayangkan dan berharap peristiwa ini hanya untuk yang pertama dan terakhir," tuturnya.

Menurut dia, upaya nasabah mendatangi bank penerbit untuk mengklarifikasi tagihan kartu kreditnya sudah benar. "Klarifikasi ini untuk mencari solusi. Tapi, bagaimana kejadian setelah itu, biar penyidik dari kepolisian yang melakukan tugasnya," katanya. (umi)

• VIVAnews

Kamis, 31 Maret 2011

Tamu Istimewa Pernikahan William-Kate: UFO?

Tamu Istimewa Pernikahan William-Kate: UFO?
"Mereka (UFO) terlihat baru-baru ini di Libya dan dekat lokasi kejadian tsunami Jepang."
KAMIS, 31 MARET 2011, 11:29 WIB
Elin Yunita Kristanti

VIVAnews -- Jumat 29 April 2011 mendatang sebuah pernikahan akbar akan dilangsungkan di Inggris, antara Pangeran William dengan kekasihnya, Kate Middleton.

Pernikahan ini diperkirakan tak hanya menyedot perhatian lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia, tapi juga UFO (unidentified flying object). Ini menurut mantan pejabat militer Inggris, George Filer, yang juga mengelola National UFO Centre.

Kata dia, adalah biasa penampakanekstraterresterial di sekitar peristiwa penting, dan bukannya tak mungkin mereka akan menonton pernikahan William-Kate. "Mahluk luar angkasa nampaknya tertarik dengan segala sesuatu yang dianggap penting. Mereka (UFO) terlihat baru-baru ini di Libya dan dekat lokasi kejadian tsunami Jepang," kata Filer seperti dimuat Daily Mail, 30 Maret 2011.

Ditambahkan dia, National UFO Centre telah melacak lebih dari 1.000 klaim penampakan UFO tiap bulan. Juga mendapatkan laporan dari sejumlah pilot angkatan udara, British Royal Air Force (RAF) yang melaporkan penampakan UFO di atas terusan Inggris beberapa minggu belakangan.

Filler mengharapkan UFO akan terlihat di Westminster Abbey 29 April mendatang, apalagi keluarga kerajaan menunjukkan ketertarikan terhadap UFO.

Filler mengaku pernah berbicang dengan kakek Pangeran William, Pangeran Phillip sekitar tahun 1961 atau 1962, kala ia menjadi navigator tanker.

"Ia bertemu dengan kami setelah makan malam, ia mengaku ingin berbicara soal UFO. Pangeran Philip mengatakan RAF berhenti mengejar UFO karena beberapa pesawat yang dikirim tidak kembali," kata Filler. "Mereka memutuskan mengirim tanker, yang kecepatannya hampir sama dengan pesawat terbang tapi bahan bakarnya bisa bertahan 15 jam, dua kali lipat dari jet tempur."

Filler juga mengklaim, suami Ratu Elizabeth itu mengaku, pamannya, Earl Mountbattan pernah melihat UFO dari jarak dekat.

Penyelidikan crop circle di Inggris selama tahun 1980-an juga dijadikan penguat alasan Filler, bahwa keluarga kerajaan gemar UFO.

Penulis buku tentang crop circle, 'Circular Evidence', Colin Andrews mengatakan, Sang Ratu Inggris pernah membaca bukunya. "Pangeran Philip dan Ratu sangat tertarik dengan subyek UFO. Itu kelihatannya berdasarkan pengalaman pribadi." (umi)

• VIVAnews

Rabu, 30 Maret 2011

Lima Tanda Harus Segera Pindah Kerja

Lima Tanda Harus Segera Pindah Kerja
Jangan sampai terjebak dalam pekerjaan yang tidak memberikan kepuasan.
RABU, 30 MARET 2011, 13:23 WIB
Mutia Nugraheni

VIVAnews - Berhenti bekerja dalam situasi ekonomi tak menentu seperti saat ini, sementara belum dapatkan pekerjaan baru memang terdengar sangat berisiko. Tetapi jika Anda sudah merasa pekerjaan saat ini tak lagi menjanjikan, mungkin mengundurkan diri bisa jadi pilihan tepat.

Jangan sampai terjebak dalam pekerjaan yang tidak memberikan kepuasan. Sebagai bahan pertimbangan, berikut lima tanda harus secepatnya berhenti bekerja yang dilansir dari US News.

1. Anda tidak belajar hal baru
Setelah cukup lama bekerja, Anda pasti sudah sangat andal menangani pekerjaan. Tetapi sebagai seseorang yang ingin berkembang secara profesional, Anda harus selalu belajar hal baru.

Jika pekerjaan saat ini tidak mendukung atau meningkatkan pengetahuan dan kemampuan Anda sebagai profesional, segera kembangkan diri dengan mencari pekerjaan lebih baik.

2. Anda tak bersemangat
Jika setiap bangun pagi Anda merasa lelah dan tidak bersemangat untuk bekerja dan hal ini terjadi selama berbulan-bulan, itu merupakan masalah besar. Bisa jadi, kondisi menunjukkan bahwa Anda tidak menikmati lagi pekerjaan saat ini. Efeknya adalah produktifitas dan kualitas Anda dalam bekerja akan terus menurun. Pertimbangkan untuk mengejar cita-cita dan melakukan pekerjaan yang benar-benar Anda sukai.

3. Menghabiskan waktu mencari pekerjaan lain
Saat bekerja seharusnya Anda sangat produktif. Tetapi jika waktu Anda sebagian besar dihabiskan untuk membuka situs lowongan pekerjaan dan sibuk bertanya pada teman terkait lowongan, artinya Anda sudah tak mau bertanggung jawab dan berkomitmen dengan pekerjaan saat ini. Daripada pekerjaan berantakan dan Anda mendapat citra buruk, mengundurkan diri bisa jadi lebih baik.

4. Gaji tak kunjung meningkat
Jika Anda memiliki prestasi dan loyal dengan perusahaan, Anda berhak mendapat imbalan bisa berupa bonus atau kenaikan gaji. Tetapi jika hal ini tak kunjung terealisasi terutama jika Anda telah bekerja lebih dari dua tahun, segera cari pekerjaan baru.

5. Anda selalu merasa stres
Adalah tanda bahaya jika kehidupan pribadi selalu terganggu karena kesibukan pekerjaan. Hal ini membuat stres jangka panjang yang justru berujung pada menurunnya kualitas pekerjaan.

Menjadi profesional adalah yang bisa membagi waktu antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Bukan selalu mengorbankan waktu pribadi demi pekerjaan. (pet)

• VIVAnews